Drs. Umbu Dedu Ngara

img_4786.jpgFerdinand U.R. Anaboeni – Drs. Umbu Dedu Ngara, sosok salah satu pemimpin daerah yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD Sumba Tengah. Terlahir di Lawonda – Sumba Tengah pada tanggal 25 maret 1941, memiliki seorang istri bernama lengkap Rambu K. Riwa dan telah dikaruniawi 3 orang anak.. Pria paruh baya ini memiliki sejarah pendidikan, SR wairasa sumba barat, SMP Kr. Waikabubak, SMA Solo jurusan ilmu pasti, serta sarjana ekonomi fakultas ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana. Semasa kuliah, Umbu Dedu Ngara aktif dalam berbagai organisasi intra serta extra kampus. Dia pernah menjabat sebagai wakil ketua dewan mahasiswa UKSW periode 1968 – 1969, wakil ketua GMKI cabang salatiga periode 1968-1971, ketua GAMKI cabang salatiga 1968-1971 serta ketua umum Lembaga Pengabdian Mahasiswa Se-Jawa Tengah 1972-1973. Setelah lulus pun keterlibatan ke berbagai organisasi masyarakat tetap dijalaninya, Ketua Pusat Koperasi Induk (PUSKUD) NTT periode 1983-1994, Wakil ketua kamar dagang daerah(KADINDA) tkt propinsi NTT tahun 1988-1992, wakil ketua Perhimpunan Pedagang dan Peternak Hewan Indonesia tkt propinsi tahun 1983-1984 serta ketua kaum Bapak di Majelis Gereja HOREB Perumnas Kupang.

Ramah serta penuh senyum adalah sifat yang ada pada diri Umbu Dedu Ngara. Keramahan itulah yang terasa ketika tim redaksi berkunjung ke rumah beliau untuk melakukan wawancara, sambutan hangat begitu terasa selama wawancara berlangsung.

Pria yang dulunya menjabat ketua komisi B DPRD Sumba Barat ini bertutur, ada 2 tantangan besar yang harus dihadapi oleh kabupaten sumba tengah saat ini. Pertama, kemiskinan serta pemiskinan. Dalam penjelasannya, yang dimaksud dengan kemiskinan adalah sebuah proses alamiah dimana rakyat tidak memiliki sawah, tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup serta miskin akan akses informasi. Miskin akses informasi inilah yang akan menimbulkan apa yang beliau sebut ‘hakekat pembodohan’. Dalam hal ini, bukan hanya rakyat saja yang miskin akan akses informasi, dewan serta pemerintah pun mengalami hal yang sama. Oleh karena itu yang penting dilakukan agar tidak miskin informasi, informasi yang disampaikan harus benar dan dapat menyentuh segala kalangan masyarakat. Sedangkan pemiskinan yang dimaksud berasal dari faktor budaya dan aturan pemerintah. Dari segi budaya, pemiskinan terjadi dikarenakan kegiatan-kegiatan adat yang membutuhkan sejumlah hewan serta tumpang tindih aturan adat, sebagai contoh, penggadaian sawah untuk membeli sejumlah hewan. Pemerintah sebagai pembuat aturan ternyata belum betul-betul mampu untuk mengatasi kemiskinan, aturan yang dibuat oleh dirasa masih saling tumpang tindih yang menyebabkan kebingungan dikalangan masyarakat. Tantangan kedua, penggabungan kembali ke kabupaten induk. Jika penggabungan kembali Sumba Tengah ke kabupaten induk didasari oleh kepentingan politik, maka penderitaan terbesar akan dialami oleh rakyat.

Umbu Dedu Ngara mengatakan bahwa pilar-pilar pembangunan di Sumba Tengah terdiri dari 3 bagian besar, pemerintah, masyarakat serta pengusaha. Secara khusus pada dunia usaha, beliau berpendapat bahwa masyarakat bersama pemerintah diharapkan mampu membangun dunia usaha baru. Pemerintah kedepan harus dapat menciptakan informasi bisnis dan dapat menjadi fasilitator terciptanya dunia usaha baru di Sumba Tengah. Intinya adalah masyarakat sumba tengah harus bisa untuk mandiri yaitu dengan cara membuka jaringan usaha dan memelihara jaringan system yang telah ada agar tidak terjadi konflik antara manusia dengan alam. Dalam pilar sumba tengah faktor manusia (masyarakat) dapat dilihat dari segi ekomoni keluarga, pendidikan keluarga, dan kesehatan.

Pertanyaan lain mengenai pengamodasian CPNS yang seyogyanya harus putra-putri asli daerah dijawab oleh mantan staf pegajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana ini dengan jawaban “ kita harus memahami persoalan yang ada, dengan cara mengingat kembali konsep dasar pemekaran kabupaten Sumba Tengah”. Konsep dasar pemekaran kabupaten Sumba Tengah yaitu Pertama, masyarakat yang tidak mempunyai daya beli di karenakan banyak masyarakat sumba tengah yang tidak memiliki pekerjaan (menganggur). Kedua, masalah pembangunan karena banyaknya pengangguran. Ketiga, masalah jumlah penduduk yang mencapai angka 65.000 jiwa. Keempat, ingin mensejahterakan masyarakat Sumba Tengah. Menurut beliau karena begitu banyak putra-putri daerah yang menganggur, maka mereka harus menjadi prioritaskan utama. Alasannya adalah orang-orang dari luar daerah hanya sebatas mengetahui sedangkan orang-orang asli daerah sudah mengetahui masalah yang ada hanya tinggal butuh adaptasi saja. Namun kelemahan yang ada adalah ketika orang dalam daerah tidak mampu maka diambillah orang diluar daerah yang lebih berkompetensi untuk mengisi kekosongan yang ada. Cara untuk mengatasi kelemahan tersebut yaitu dengan pengadaan beasiswa untuk semua cabang ilmu. Selain itu juga perlu diadakan pelaihan-pelatihan guna peningkatan mutu sumberdaya manusia yang dimilki daerah.

Ketika ditanya mengenai sosok pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh kabupaten Sumba Tengah saat ini? Umbu Dedu Ngara berpendapat, kabupaten sumba tengah saat ini membutuhkan pemimpin yang jujur dan sederhana. Pemimpin yang sekaligus dapat menjadi manajer, artinya tidak hanya dapat bernuansa politik yang konseptor tetapi juga mampu mengoperasionalkan sesuatu yang sudah terencana dengan banyak pertimbangan. Pemimpin Sumba Tengah diharapkan untuk bisa tegas dan to the point (langsung pada sasaran). Selain itu juga pemimpin Sumba Tengah harus mampu menjalankan mekanisme politik dengan baik. Mekanisme politik yang baik harus dimulai dari bawah (masyarakat) dan harus sampai keatas (bottom up).

Dilihat dari pengalaman organisasi dan riwayat pekerjaan yang telah diemban, sudah tidak diragukan lagi bahwa Drs Umbu Dedu Ngara bukan sosok yang biasa-biasa saja. Semoga kiprah beliau sebagai ketua DPRD Sumba Tengah mampu menjawab aspirasi seluruh masyarakat Sumba Tengah.

Iklan

Agustinus Umbu Rauta: KRUSIAL, PEMIMPIN PERTAMA KABUPATEN SUMBA TENGAH

Robertus Umbu Tayi – Banyak orang berkomentar seputar masa depan Sumba Tengah. Tidak sedikit yang pesimis. Banyak juga yang tetap berpikir positif. Sumba Tengah lahir dari pemikiran yang positif, dari harapan dan kepercayaan yang tidak pernah luntur. Pada masa-masa persiapan untuk memilih Kepala Daerah yang defenitif saat ini,banyak wacana yang bergulir di masyarakat. Pemimpin pertama ini sangat krusial oleh karena mengemban tugas untuk tetap menahan Sumba Tengah pada Trek nya sekarang atau kembali bergabung dengan kabupaten induk karena dianggap tidak dapat berkembang. Pemimpin seperti apa yang paling dibutuhkan Sumba Tengah saat ini? Tim redaksi Ujas, Ade dan Roby telah mewawancarai Drs Agustinus Umbu Rauta di rumahnya di bawah kaki gunung Tadula Dewa Desa Anajiaka.Seorang tokoh senior, yang dulunya banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan sehingga terungkap pula beberapa persoalan pendidikan yang perlu mendapat perhatian.

Bagaimana komentar bapak tetang Sumba Tengah yang telah menjadi Kabupaten…
Hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur. Ini adalah sebuah berkat yang sangat besar bagi masyarakat Sumba Tengah. Keputusan yang ditunggu dengan penuh harapan akhirnya datang. Syukur bahwa upaya peningkatan kesejahteraan semakin mendekat kepada kehidupan masyarakat yang selama ini sepertinya hanya sebuah impian. Kita punya harapan hidup yang lebih baik semakin besar sekarang dan akan datang dalam waktu yang relatif singkat ke depannya.

Dari awal perjuagan hingga sekarangpun, orang selalu mebandingkan 2 kabupaten baru yang baru lahir, dan orang selalu mengaggap remeh Sumba Tengah untuk dapat maju cepat…
Undang-undang pembentukkan kabupaten baru mensyaratkan PAD yang cukup tinggi. Di sini sebenarnya tersirat prasyarat kemiskinan. Justru karena Sumba Tengah miskin makanya harus dimekarkan. Kalau saja Sumba Tengah tidak menjadi kabupaten maka akan tertinggal puluhan tahun lagi. Saya pikir orang-orang di pusat melihat bahwa kalau Sumba Tengah tidak dibantu maka akan semakin tertinggal. Menyangkut Sumba Barat Daya, kalau Sumba Barat Daya sudah makmur untuk apa lagi mekar? Sebaiknya kita berhenti sudah membanding-bandingkan apa yang tidak perlu. Mari kita berkonsentrasi pada apa yang kita miliki untuk kita kelola menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita. Kalau ada yang perlu kita sinergikan itu kan malah sangat baik.

Apa yang kita punya sebagai modal untuk mejalankan kabupaten ini?
Sekali lagi terlalu naif untuk mengatakan bahwa Sumba Tengah tidak punya apa-apa.Saya cukup mengikuti sejarah pembentukkan pemerintahan di pulau Sumba ini. Pada tahun 1958 pulau Sumba yang mejadi 1 unit pemerintahan tersendiri dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Sumba Barat dan Sumba Timur. Sumba Barat di pimpin oleh raja Loura yaitu Lede Kalumbang sebagai kepala pemerintahan sementara. Apa yang Sumba Barat punya waktu itu untuk hidup sebagai sebuah kabupaten? Jalan belum ada yang diaspal. Tidak ada satupun kendaraan. Kota Waikabubak itu panjangnya cuma 500 meter. Coba bandingkan dengan apa yang sudah ada di sumba Tengah sekarang ini untuk memulai diri mejadi kabupaten. Jalan mulus serta kendaraan banyak. Banyak yang kita bisa miliki untuk berhasil, jadi jangan dulu kita katakan Sumba Tengah tidak punya apa-apa kalau hanya melihat dengan kasat mata. Lahan bersama manusianya saja sudah cukup bagi kita untuk meretas hidup yang lebih baik.

Yang tidak kasat mata yang ada pada masyarakat, modal sosial apa yang kita punyai?
Ada buku baru yang terbit ditulis oleh Pak Hugo Kalembu. Isinya ada tentang sepintas perjalanan perjuangan pemekaran 2 kabupaten di Sumba. Dia mengakui bahwa hawa perjuangan yang sebenarnya ada di Sumba Tengah. Hal ini kiranya menjadi gambaran bahwa kita masyarakat pejuang. Kita punya semangat untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik. Kalau kita tidak punya semangat dan daya juang, kita sudah mundur mendengar cemohan orang tentang ketidaklayakan kita menjadi daerah otonom baru. Gambaran kebersamaan, semangat dan daya juang kita bisa juga kita lihat dalam cara kita bekerja. Cara kita menarik batu kubur, menarik tiang, menanam padi. Kita selalu melakukannya secara bersama-sama dalam kegembiraan dengan nyanyian-nyanyian. Atau bahkan orang menyayi bersama kalau sedang mengendarai kuda memuat hasil dari sawah. Itu adalah modal utama kita untuk mengolah alam kita yang dinilai kurang menghasilkan. Selanjutnya kita butuh orang yang tepat yang berdiri diatas batu agar masyarakat kita benar-benar mejadi satu komando satu tujuan.

Dengan realitas masyarakat Sumba Tengah yang demikian, di masa bayi ini Sumba Tengah membutuhkan pemimpin yang seperti apa?
Nah itulah yang saya bilang butuh orang yang tepat untuk berdiri di atas batu tadi. Yang terutama adalah dikenal dan mengenal rakyatnya, dicintai dan mencintai rakyat. Masyarakat mengenalnya dari kehidupan sehari-harinya, cara dia hidup, cara dia berhubungan dengan orang lain. Bagaimana kepekaan dan keprihatinannya dengan orang lain. Perhatian yang ditunjukkan dengan mengunjungi para pencuri di tahanan, yang mengunjungi orang sakit, yang mencintai rakyatnya dengan berlaku kudus dan jujur. Tidak menipu dan memakan uang rakyat, yang tahu dan mengenal dengan baik kehidupan masyarakat Sumba Tengah yang masih susah dan hidup dari sawah dan kebun. Dengan begitu kita berharap orang yang tahu berkebun dan bersawah. Bukan apa-apa dua tempat ini terlalu penting untuk masyarakat kita. Mengenal masyarakat juga berarti mengenal dengan baik adat istiadatnya terlibat aktif dalam acara-acara adat. Mengenal rakyat juga berarti tahu dan mengenal alamnya selain mengetahui manusianya. Menguasai wilayah ini sehingga tidak memerlukan waktu banyak lagi untuk orientasi pelaksanaan program. Selain itu juga membutuhkan orang yang berpengalaman di pemerintahan. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan karier dan track record nya selama ini. Hal ini penting, karena untuk efisiensi dan keefektifan pelaksaaan pemerintahan mengingat Sumba Tengah butuh akselarasi yang lebih. pengalaman kepamongprajaan, pengalaman lapangan. Jangan orang yang selama ini hanya mengatur dari kantor saja. Sumba Tengah sangat membutuhkan investor. Jadi sebaiknya pemimpin yang akan segera kita pilih punya modal jaringan yang kuat dalam hal ini, paling konkrit orang tahu Jakarta lah….yang tahu jalur-jalur yang baik dan benar untuk dapat mendatangkan investor ke Sumba Tengah. Pengenalan akan manusia dan alam Sumba Tengah adalah modal yang sangat berarti untuk menyusun strategi yang paling cocok agar pelaksanaan program pembangunan tepat guna dan tepat sasaran.

Dari sudut pandang budaya, kepemimpinan seperti apa yang bisa direkomendasikan?
KeUmbuan dan Kebangsawanan yang masih kelihatan dalam masyarakat ini, itulah yang bisa kita jadikan cermin kepemimpinan. Keumbuan dan kebangsawanan adalah sebuah tanggungjawab besar. Kalau di kampung dapat dibilang sebagai ina ama ta paraingu. Maramba mempunyai arti melindungi, mengayomi rakyat dalam kampung. Kalau ada satu masalah dalam kampung maramba pasti terlibat dalam penyelesaiannya. Kalau satu rumah tidak bunyi lesungnya maka atas inisiatif maramba padi akan dikirim ke rumah tersebut. Setiap acara adat baik kematian maupun perkawinan maramba selalu memainkan peran sentral. Saya punya pengalaman saat saya dianiaya marinir beberapa tahun yang lalu. Seorang yang saya anggap pembesar di Sumba Barat dengan serta merta datang memberi saya sebatang parang dan berkata: “mari kita selesaikan masalah ini apa pun caranya…” Dalam sudut pandang budaya, orang seperti ini yang secara subjektif saya anggap maramba. Atau kembali dalam metafora menarik batu, kita butuh pemimpin yang menjadi motivator ulung yang pada saat bernyanyi dan saat dia berteriak ya waa! Segenap rakyat akan menjawabnya gauwa! Motivator yang mengerti pola pikir masyarakat Sumba Tengah. Kita ini pintar kahoha atau merayu namun mudah juga untuk dikahoha atau di rayu.

Bapak berkecimpung cukup lama dalam dunia pendidikan. Apa yang ingin bapak sampaikan?
Semua orang tahu pendidikan sangat penting. Membangun pendidikan sama dengan membangun peradaban. Namun seperti yang kita alami bersama pendidikan masih morat marit. Berbicara tentang pendidikan di Sumba Tengah tidak lepas juga dari sistem pendidikan yang lebih besar, dan kenyataannya persoalan pendidikan terlalu kompleks. Oleh karena itu dengan adanya Kabupaten Sumba Tengah apa lagi dalam era otonomi daerah ini kita dapat lebih fokus untuk melihat persoalan pendidikan kita. Di tingkatan praktisi, salah satunya mempersoalkan pendidikan di Sumba Tengah adalah keterpencaran penduduk. Sumba Tengah sangat luas. Pola-pola pemukiman tradisional yang berjauhan antara satu dengan yang lain adalah tantangan tersendiri. Untuk pemerataan pendidikan pemerintah harus membangun lebih banyak SD mini. Biar 10 murid saja yang penting ada gurunya. Misalnya 1 desa luasnya 50 km2 dan hanya tersedia 1 SD kita harus perhitungkan kekuatan berjalan anak. Misalnya jarak sekolah ke rumah 4 km dengan medan yang sulit maka dalam satu hari si anak yang baru kelas 1 atau kelas 2 berjalan 8 km. Jadi SD mini ini misalnya untuk anak-anak kelas 1 sampai 3 saja dengan konsentrasi baca tulis dan hitung saja. Tidak peduli dengan tetek bengek kurikum segala. Nanti setelah itu selesai baru digabung ke SD yang lengkap. Gurunya biar tamatan SMP saja. Pemerintah bisa memfasilitasi DIKLAT khusus untuk mereka. Untuk hal ini kita sangat membutuhkan kearifan dari penguasa.

Bagaimana Tentang Kurikulum Nasioanal yang terus berubah?
Tidak usah kita dipusing dengan metode dan kurikulum yang setiap saat berubah, paling penting sekarang adalah anak kelas 1-3 bisa mebaca menulis dan menghitung. Kalau ini sudah selesai selanjutnya akan menjadi mudah. Kesalahan umum sekarang adalah karena anak kelas 4 tidak bisa membaca menulis, akibat akan terjadi saling menyalahkan di antara para guru. Kelas 4 salahkan guru kelas 3, kelas 5 salahkan guru kelas 4 dan seterusnya, sehingga guru SMP menyalahkan guru SD.

Selain CALISTUNG (membaca, menulis dan menghitung) model pendidikan praktis yang konteks dengan Sumba Tengah kira-kira apa?
Kalau pendidikan mau menghasilkan manusia yang paripurna, maka hasilnya adalah manusia yang pintar, rajin, baik dan sehat. Yang dididik adalah hati otak dan tangannya, hasilnya adalah manusia yang hidup dari keringatnya sendiri, yang tidak menindas orang lain. Untuk yang praktis dan kontekstual, Sumba Tengah ini masih tergolong desa. Akan baik kalau 1 orang anak sekolah diwajibkan memiliki 1 pohon pisang, 10 pohon mahoni dan 1 ekor ayam untuk dipelihara. Selama ini pelajaran di sekolah sangat jauh dari ligkungan, semua tentang Jawa saja malah tentang Sumba tidak ada. Kalau bisa juga sekalian diprogramkan dalam porseni untuk dipertandingkan lomba nyanyian daerah yang lama atau yang gubahan baru. Dengan demikian kita tetap hidup dalam lingkungan budaya kita serta melestarikannya. Untuk merangsang motivasi anak untuk lebih berusaha adalah dengan bentuk apresiasi terhadap prestasi mereka. Anak yang berprestasi di tingkatan kecamatan hingga nasional diarak keliling kota dan diberi hadiah yang pantas. Untuk orang-orang muda yang belum punya pekerjaan mereka dikondisikan supaya memelihara babi atau ternak yang lain sehingga kalau saatnya kawin tidak mengharapkan orang tua lagi. Mereka harus punya cangkul atau alat-alat bertani lainnya. Satu hari tidak usah terlalu banyak mencangkul cukup 2×2 meter saja. Hitung saja berapa yang sudah dicangkul selama satu bulan.

Adakah persoalan dalam dunia pendidikan yang perlu di buat menjadi PERDA?
Khusus di Sumba Tengah kita membutuhkan PERDA pendidikan yang khusus. Misalnya tentang absensi guru. Guru kita terlalu banyak urusan di luar sekolah terutama urusan adat. Waktu untuk mengajar banyak terbuang untuk urusan adat. Kalau bisa ada sanksi bagi guru-guru yang meninggalkan sekolah pada jam-jam pelajaran. Tentunya akan menjadi pertimbangan pembuat kebijakan sehingga semua menjadi sinergi. Yaa…kesemuanya itu tergantung dari kearifan pembuat kebijakan untuk melihat persoalan yang ada di Sumba Tengah. Kembali lagi semoga kita dapat memilih pemimpin yang tahu benar akan manusia dan alam Sumba Tengah dan memiliki kecerdasan untuk meramu potensi di Sumba Tengah menjadi kekuatan untuk maju.