SELANGAKAH UNTUK MENUJU SUMBA TENGAH YANG LEBIH SEJAHTERA

Sebagai Respon Forum Masyarakat Peduli Sumba Tengah (FMPST) Terhadap Seminar dan Musyawarah Adat yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah maka kami merasa terpanggil untuk berkontribusi terhadap kegiatan tersebut. Layak kirinya kita memberikan apresiasi dan dukungan yang tinggi terhadap kegiatan ini. Sebab hasil dari seminar dan musyawarah ini menjadi terobosan baru bagi kabupaten Sumba Tengah untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Sumba Tengah. Ada banyak pendapat dan asumsi yang menyatakan bahwa sumber utama ketertinggalan masyarakat Sumba terletak pada tradisi dan adat yang dianutnya. Pernyaan tersebut tentu saja bisa salah dan bisa juga ada benarnya. Tergantung kita yang merasakan secara langsung kemiskinan itu. Apakah kemiskinan yang ada sebagai akibat daritradisi dan adat yang kita anut atau ada faktor lain yang membuat kita miskin.

Berikut ini merupakan hasil diskusi FMPST yang dilakukan pada tanggal 9, 10, dan 11 November 2009 di kota Salatiga yang melibatkan anggota FMPST dari kota Gudek Jogjakarta. Semoga butir-butir pemikiran ini dapat berguna dalam membantu semua pihak yang memiliki kepedulian untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Sumba Tengah. Karena keterbatasan ruang dalam dalam buletin ini maka tidak semua hasil diskusi dapat kami disajikan. Namun dalam rekomendasi tertulis yang akan kami sampaikan pada hari pelaksanaan Seminar dan Musyawarah Adat akan secara terperinci memuat tentang hasil diskusi FPMST.

Jika dilihat dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia di Sumba, maka terjadi paradoks antara SDM dan SDA yang ada dengan kondisi masyarakat Sumba yang serba berkekurangan. Ini ditandai dengan masih banyaknya masyarakat dengan predikat miskin, tingkat pendidikan yang rendah, dan juga kepedulian masyarakat terhadap masalah kesehatan yang masih rendah. Akibatnya terjadi jurang pemisah yang semakin lebar antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin. Atau dengan kata lain yang kaya tetap menjadi kaya dan yang miskin tetap menjadi miskin.

Selain terjadinya paradoks antara SDM/A dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, fenomena ini juga merupakan antiklimaks dari penyakit-penyakit masyarakat yang selama ini tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat seperti pencurian, perampokan dan perjudian. Praktek-praktek seperti ini seolah-olah mendapatkan legitimasi yang kuat dari masyarakat sehingga eksistensinya tetap diterima dalam kehidupan mereka. Lebih Ironis lagi penyakit-penyakit masyarakat ini sudah melibatkan elite didalamnya seperti pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, aparat keamanan dan lain-lain. Sehingga upaya pemberantasannya pun menjadi semakin sulit karena orang-orang yang diharapkan mampu menjadi contoh dan teladan dalam masyarakat malah terlibat dalam praktek-praktek pencurian, perampokan dan perjudian.

Dari perspektif kebudayaan dan pertanian, masyarakat ST juga masih tertinggal dalam dua hal ini. Masyarakat beranggapan bahwa apa yang hidup dalam masyarakat sedapat mungkin di pertahankan dan jangan mudah untuk mengadakan perubahan. Apa sedang dijalani sekarang merupakan tradisi (kebudayaan berasal dari tradisi masyarakat yang kemudian menjadi kebudayaan) yang perlu untuk dilestarikan sekalipun ekonomi dan masa depan adalah taruhannya.

Sama halnya dalam bidang pertanian, Sumba masih tertinggal jauh dengan daerah lain dalam pengolahan lahan pertanian. Petani Sumba masih setia dengan menggunakan sistem pertanian tradisional untuk mengolah lahan pertanian mereka. Akibatnya biaya untuk pengolahan dengan sistem seperti itu menjadi semakin mahal karena membutuhkan waktu yang cukup lama. Padahal cara-cara modern yang telah praktekan pada daerah lain telah mampu mengangkat derajat petani untuk sama dengan profesi-profesi yang lain dalam hal pendapatan. Untuk itu mengadopsi sistem pertanian modern seperti pemupukan, pemasaran dan pengolahan menjadi hal yang sangat penting untuk segera dilaksanakan.

Persoalan-persoalan inilah yang kemudian harus direspon dan dicari solusinya untuk mendapatkan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik di ST.

Menciptakan Suana Yang Aman Dalam Masyarakat

Kondisi ketenteraman dan ketertiban masyarakat terutama masalah pencurian ternak dan perampokan merupakan salah satu isu utama di Kabupaten Sumba Tengah. Situasi seperti itulah ( tidak aman ) yang memicu masyarakat lainnya (pencuri) mengkerdilkan potensi beternak ( kecil- Besar ), yang kemudian berefek pada kemiskinan. Karena secara umum masyarakat ST selain bertani, potensi lain yang dimiliki adalah beternak.dan kedua potensi tersebut ( Bertani dan Beternak ) merupakan sumber kelangsungan hidup dari masyarakat Sumba tengah.

Kebutuhan akan keamanan oleh masyarakat ST adalah kebutuhan yang mendesak dan harus segera dipenuhi karena keamanan dan ketertiban dilingkungan dapat menumbuhkan kembali gairah beternak tanpa harus dibebani dengan situasi lingkungan yang tidak aman. Pada satu sisi keamanan dan ketertiban dalam suatu masyarakat adalah salah satu faktor pendukung suksesnya pembangunan di kabupaten Sumba Tengah.

Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka perberdayaan terhadap aparat penegak hukum menjadi hal yang segera untuk dilakukan. Karena ketidakamanan dan tidak tertiban lingkungan masyarakat yang semakin berkepanjangan akan berakibat pada penambahan peluang kemiskinan internal di kab Sumba Tengah melalui pencurian dan perampokan.

Selain beberapa pendekatan yang bersifat teknis ada baiknya juga menggunakan pendekatan yang bersifat partisipatif. Pendekatan partisipatif tersebut bertujuan untuk mewujudkan perubahan sosial dan perberdayaan masyarakat agar ketimpangan dan ketidakadilan dapat dihindari. Sehingga masyarakat dapat menikmati hasil pembangunan secara adil dan merata yang pada gilirannya kesejahtraan masyarakat juga meningkat.

Menyelaraskan Proses Pembangunan Berbasis Kebudayaan.

Penganalisaan mengenai konsepsi pembangunan yang berbasis kebudayaan, titik sentralnya terletak pada proses perencanaan pembangunan yang berorientasi pada nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Seharusnya, proses penyusunan rencana pembangunan harus didasarkan dengan melalui hierarki sebagai berikut: identifikasi nilai dalam masyarakat, penyusunan paradigma, penyusunan konsep, dan perencanaan aplikasi. Indentifikasi nilai dimaksudkan untuk mengeksplorasi informasi sebanyak-banyaknya tentang nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, nilai-nilai yang dimaksud harus menunjukan nilai budaya komunal dominan dalam masyarakat, hal ini harus dilaksanakan agar proses pembangunan yang hendak dilaksanakan tidak bertabrakan dan sesuai dengan kondisi nilai-nilai masyarakat setempat. Dari identifikasi nilai-nilai tersebut, untuk mengetahui kondisi masyarakat secara umum, maka diidentifikasi paradigma masyarakat, yaitu berkaitan dengan cara pandang masyarakat, bagaimana masyarakat memandang dirinya, bagaimana masyarakat memandang lingkungan di luar dirinya, bagaimana masyarakat memandang pembangunan, dan lain sebagainya. Setelah pengidentifikasian nilai dan paradigma, maka langkah selanjutnya adalah penyusunan konsep pembangunan, dengan mendasarkan pada nilai dan paradigma yang berkembang dalam masyarakat. Langkah terakhir dari mekanisme tersebut yaitu penyusunan rencana baku untuk kemudian diaplikasikan. Proses identifikasi nilai dan paradigma dalam masyarakat harus mampu memperkirakan kondisi nilai dan paradigma di waktu yang lalu, saat ini, dan masa yang akan datang.

Sementara itu kehidupan masyarakat serba dinamis. Setiap kebudayaan juga memiliki kecenderungan untuk berubah, karena kenyataan yang dihadapi manusia sehari-hari juga tidak merupakan keteraturan yang kaku. Diantara unsur-unsur kebudayaan yang berbeda-beda maka terdapat dinamika masyarakat yang terus berkembang dan dapat menimbulkan ketidak serasian lagi dengan fungsinya. Maka keadaan itu menuntut perubahan.

Seringkali dalam masyarakat perubahan itu bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan karena ada kelompok masyarakat tertentu yang tidak menghendaki perubahan itu. Maka terjadi konflik antara kelompok yang pro terhadap perubahan dan yang konservatif. Untuk itu perlu musyawarah bersama agar mendapat kesepakatan bersama terhadap hal yang menjadi persoalan tadi.

Biasanya perubahan tidak dapat dihindari untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan yang sudah berkembang. Tetapi perubahan hendaknya didahului dengan pertimbangan yang matang karena perubahan itu membawa dampak yang luas bagi masyarakat. Perubahan yang dilakukan dengan tergesah-gesah dan berlebihan dapat mendatang kekacauan.

Pembangunan Pertanian Berbasis Pertanian Lahan Kering

Lahan kering di Kabupaten ST masuk dalam golongan lahan kering iklil kering, sebab mendapat curah hujan 2000mm/Tahun. Keadaan ini terjadi akibat adanya pergeseran musim penghujan di daerah tersebut. Sedangkan berdasakan ketinggian tempatnya, lahan kering di kab ST tergolong dalam lahan kering dataran rendah dengan ketinggian 20 s/d 700 m dari permukaan laut.

Komuditas yang diusahakan di ST tentunya harus disesuaikan dengan kondisi setempat seperti jaringan pemasaran dan manfaat ekonomi. Arah pengembangan pertanian di ST adalah pengoptimalan terhadap 3 tiga kelompok pertanian antara lain: Pertanian tanaman pangan (padi ladang, jagung, kedelai, kacang dsb), pertanian bahan baku industri (kopi, cengkeh panili, karet, kelapa sawit dsb) dan pertanian Holticultura (Buah-buahan dan sayuran). Untuk mendukung komoditas di atas maka strategi pembangunan lahan kering dapat meliputi: penyelesaian masalah irigasi, memberi asupan teknologi kepada petani, membentuk jaringan pemasaran serta pelatihan dan pendampingan kader tani mudah.

Dalam membangun pertanian yang berkelanjutan pengelolaan agroekosistem lahan kering dapat dipandang sebagai upaya memperbaiki dan memperbaharui sumber daya alam yang bisa dipulihkan. Oleh karena itu dalam pengelolaan yang berkelanjutan perlu pendekatan lingkungan dengan mengikuti kaidah pelestarian lingkungan. Maka terdapat beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk pengolahan yang berkelanjutan. Pertama, Konservasi lahan. Konservasi menjadi sangat penting karena kerusakan lahan sebagai akibat dari eksplorasi yang terjadi secara terus menerus. Kedua, Pengaturan pola tanaman. Dalam pengaturan pola tanam maka harus diperhatikan pengkombinasian beberapa tanaman pangan. Sebaiknya dalam satu lokasi tanaman hendaknya tidak labih dari 4 jenis tanaman saja. Karena apabila terdapat lebih dari 4 jenis tanaman dalam satu lokasi maka akan terjadi kompetisi yang tidak sehat antar tanaman. Ketiga Embung. Embung atau Tandon air adalah waduk berukuran mikro dilahan pertanian (Small Farm Reservior ) yang dibangun untuk menampung kelebihan air diwaktu musim penghujan dan penggunaannya pada dilakukan pada musim kemarau. Keempat Pemakaian Pupuk Organik. Pengolahan lahan kering pertanian secara terus menerus akan menyebabkan lahan menjadi kurus sehingga untuk usahatani selanjutnya perlu input yang banyak untuk mengembalikan unsur hara yang terkandung dalam tanah yang sudah banyak diserap tanaman pendahulunya. Untuk itu penggunaan pupuk organik menjadi sangat penting.

Dengan menjadikan beberapa hal diatas sebagai skala prioritas oleh semua pihak terkait maka tanpa disadari kita telah selangkah menuju ST yang lebih sejahtera.

Oleh : Oscar Umbu Siwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s