Gagal, Tidak Berarti Tamatnya Kiprah Politik !!

Belajar Dari Seorang Persiden
Amerika Serikat, dari sejumlah
kegagalan dalam kiprah
politik, Abraham Lincoln pada
akhirnya mampu menjadi Presiden.

Abraham Lincoln merupakan figur kuat dan perlu dijadikan panutan oleh berbagai politisi pada masa kini. Lincoln merupakan Presiden yang dikenal dengan pidatonya yang bergema kuat tentang defenisi demokrasi dalam sejarah Amerika. Presiden Lincoln dalam pidatonya memberi kesimpulan defenisi demokrasi dengan menyatakan ‘pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’. Pada akhir naskah pidatonya di tulis ‘…pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, takkan pernah menghilang dari muka bumi ini’.

Dibalik dari pidato bergema yang menjabarkan unsur paling hakiki dari pemerintahan demokratis, Lincoln mempunyai sejumlah kisah ‘kegagalan’ dalam kiprah politiknya. Sebelum terpilih sebagai presiden Lincoln melewati berbagai kegagalan untuk menjadi orang nomer satu di negeri paman Sam.

Sejumlah kegagalan kiprah politik Lincoln antara lain : Ia kehilangan pekerjaan pada tahun 1832, Ia gagal menjadi juru bicara untuk DPR negara bagian pada tahun 1934, Ia menderita gangguan saraf pada tahun 1836, Ia ditolak untuk menempati pejabat pertahanan pada tahun 1849, Ia gagal menjadi anggota Senat pada rahun 1854, Ia gagal menjadi anggota Senat pada tahun 1859, pada tahun yang sama (1859) Ia kembali gagal dalam nominasi calon wakil presiden Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1860 Lincoln terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Bukan main. Lincoln patut mendapat gelar sebagai ‘politikus ulung yang kuat’ karena ia tidak ditundukkan oleh sederet kegagalan kiprah politik. Ia membuktikan bahwa kegagalan tidak berarti matinya kiprah politik dengan menjadi Persiden Amerika Serikat pada tahun 1860.

Dalam pesta demokrasi di Indonesia pada tahun 2009 ini, terdapat tidak sedikit politikus yang gagal untuk duduk sebagai anggota legislatif. Sebagian dari caleg yang gagal mengalami depresi bahkan gangguan jiwa. Kenyataan ini membuktikan bahwa banyak politikus kita yang belum siap untuk menerima kekalahan.

Sejumlah materi, tenaga dan pikiran yang dicurahkan pada pemilu belum dapat mengantar mereka ke kursi legislatif. Karena itu banyak dari calon anggota legislatif yang menganggap kiprah politiknya telah tamat pasca gagal untuk duduk dalam lembaga legislatif.

Tetapi tidak demikian. Kisah kegagalan Lincoln membuktikan bahwa satu, dua, dan tiga kegagalan atau lebih belum mampu menamatkan kiprah politik seseorang. Kegagalan tidak menjadikan kiprah politiknya tamat karena Lincoln siap sekaligus berani untuk menerima setiap kekalahan. Sikap tegar dan kuat dalam menghadapi sejumlah kekakalahan inilah yang akhirnya mengantarkan Lincoln pada kursi presiden.

Pengalaman Lincoln, menegaskan bahwa gagal menjadi anggota legislatif tidaklah menamatkan kiprah politik. Melalui pengalamannya Lincoln mengajarkan betapa pentingnya sikap ‘siap untuk menerima kekalahan’. Abraham Lincoln, membuktikan bahwa kegagalan hanya sebagai kerikil kecil bagi kesuksesan kiprah politik. Lincoln, mengajak kita yang pernah gagal untuk tetap berkiprah dalam berbagai hal-hal positif.

Oleh : Paristo Runuwali

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s