Gaya Hidup Remaja di Kupang dan AIDS

Kupang atau dalam ejaan lama sering disebut Koepang. Bagi rakyat Nusa Tenggara Timur tentu tidak asing bila mendengar kata Kupang. Kupang adalah sebuah kota pantai dipinggiran barat pulau Timor. Kupang juga merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Provinsi yang secara geografis merupakan wilayah terselatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak hal yang menjadi memori tersendiri bagi rakyat NTT bila mendengar kata Kupang. Kupang merupakan surga bagi banyak masyarakat NTT untuk dijadikan tempat menaikkan derajat hidup mereka. Banyak yang sukses namun banyak juga yang pada akhirnya harus pergi meninggalkan kota ini kembali ke kampung halamannya masing-masing. Bila memilih untuk tetap tinggal dan menetap, mereka hanya dapat berharap kepada sanak saudara mereka yang telah lebih dulu menetap disini, dalam arti kata menumpang di sanak famili mereka.

Selain surga bagi para pencari kerja, bila mendengar kata kupang tentu akan diingatkan pada kata Flobamora yakni singkatan dari Flores, Sumba, Timor dan Alor. Beragam kebudayaan dari seluruh kepulauan di wilayah NTT ada di kota Kupang. Kemajemukan terlihat takkala kita berada di kota ini dan berjalan serta mendengar percakapan mereka di jalan-jalan kota tersebut. Selain masyarakat yang berasal dari wilayah NTT, para pendatang dari tanah Jawa, Sumatera, Bali, Ambon, Sulawesi, kepulauan NTB dan masih banyak lagi lainnya juga ada dan berbaur dengan baik di kota ini, tujuannya satu yakni menaikkan derajat kehidupannya.

Kupang juga merupakan Kota dengan beragam suguhan hiburan. Hiburan yang tidak bisa ditemui di wilayah-wilayah kepulauan NTT. Hiburan yang paling diminati oleh masyarakat Kupang pada umumnya dan para muda-mudi khususnya adalah tongkrongan di malam hari. Hal ini sudah menjadi sebuah gaya hidup yang cukup berakar dan sangat digandrungi oleh mereka. Hampir di tiap sudut kota kita bisa melihat sekelompok, beberapa bahkan individu yang sedang duduk dengan asyiknya menikmati indahnya malam.

Berbicara gaya hidup masyarakat Kupang, ada istilah yang sering diperbincangakan dikalangan masyarakatnya yakni “Hari ini muncul di TV, besok pasti sudah ada di Kupang”. Ungkapan ini dikemukakan seorang anak muda bernama Yus Ressie saat ditemui di kediaman rumahnya di jalan kuanino Kupang bulan Februari kemarin. Yus adalah sapaan dia. Yus sendiri saat ini sedang berkuliah di Fakultas Hukum UNDANA Kupang dan tengah mengambil kelas ekstension. Yus berpendapat ungkapan diatas dimaksudkan lifestyle para muda-mudi disini. Bagaimana tidak, segala macam pernak-pernik, pakaian, kendaraan, HP dan beragam peralatan elektronik lainnya yang kita lihat di televisi bisa kita jumpai disini dalam waktu yang relatif singkat setelah penayangannya di televisi menurutnya.

Dunia Malam Kupang

Eloknya Kupang memang indah. Dibalik hiruk pikuknya para pekerja, pelajar, raungan knalpot serta asap kendaraan bermotor beragam objek wisata banyak terdapat disini. Objek-objek wisata inilah yang menjadi hiburan dikala kesibukan pekerjaan dilakoni masyarakatnya.

Saat cahaya mentari terbenam dan gelapnya malam menyelimuti seluruh kota, cahaya mentari berganti cahaya lampu penerangan jalan, lampu pertokoan serta lampu kendaraan bermotor yang tak terhitung banyaknya. Kota ini telah berubah menjadi kota cahaya. Di balik indahnya kerlap-kerlip lampu, kota ini menyimpan ragam cerita. Cerita yang menawarkan hiburan malam nan erotis penuh gelora dan hasrat.

Hiburan malam yang terkenal di Kupang adalah hiburan kupu-kupu malam (pelacur/hostes). Bagaimana tidak, beragam tempat serta lokasi para kupu-kupu malam banyak terdapat disini, sebut saja BK, KD, KST atau PA. Keempatnya adalah tempat yang menjadi sumber hiburan bagi para pria yang haus dan butuh kasih sayang. Tidak sedikit yang mengkategorikannya sebagai pria hidung belang. Dengan tarif berkisar antara 30 ribu sampai 250 ribu para lelaki hidung belang sudah dapat menikmati dan merasakan layanan kupu-kupu malam. Hal ini diungkapkan Leo (nama samaran) saat dimintai informasi lewat sms. Leo seorang pengangguran asal kefamenanu yang telah hidup dan menetap di kota ini selama kurang lebih 20 tahun. Dalam pergaulannya Leo telah banyak mengenal dan bergaul dengan kehidupan malam kota ini, khususnya dunia prostistusi (pelacuran).

Dengan bantuan seorang teman berinisial RL, pengamatan dilakukan ke tempat kupu-kupu malam berada. Pengamatan diawali ke BK, sebuah hotel kelas melati berlantai 2. Didepan masing-masing kamar terlihat kupu-kupu malam dengan dandanan serta pakaian minim nan seksi. Dengan bahasa tubuhnya mereka menarik minat para lelaki hidung belang agar mau untuk mampir. Setelah pengamatan selama kurang lebih 30 menit, pelanggan yang datang dikategorikan kaum muda dan madya berumur 25 sampai 40 tahunan.

Pengamatan pun dilanjutkan ke KD, lokasi terluas dari tempat berkumpulnya kupu-kupu malam. Layaknya hotel berbintang, jumlah kamar yang tersedia lebih dari 50 dengan kupu-kupu malam di setiap kamarnya. Tarif disini terbilang murah. Dengan uang sebesar 30 ribu rupiah para lelaki hidung belang sudah bisa menggunakan jasa kupu-kupu malam. Setelah berjalan keliling ke seluruh area lokasi, beberapa remaja baya telihat berlalu lalang disini. Ada yang masuk tuk chek in namun lebih banyak yang sekedar berjalan keliling melihat suasana sambil sesekali bersenda gurau dengan sesama teman-temannya.

Dunia malam Kupang tidak terhenti sekedar “jajan” dan bersenang-senang bersama para kupu-kupu malam. Di kalangan muda-mudi, hangout bersama pasangan dan teman mereka lakoni ke tempat-tempat yang menyajikan hiburan live music. Sebut saja DH singkatan dari dancing house. DH adalah sebuah diskotik yang terletak di salah satu swalayan terkenal di kota ini. Dengan tarif masuk 10 ribu rupiah di hari kerja dan 20 ribu rupiah khusus sabtu dan minggu malam, para kawula muda dan penikmat dugem dapat menikmati indahnya malam bersama teman ataupun pasangannya.

Seks bebas di kalangan remaja

Seks bebas di beberapa kalangan masyarakat Kupang juga telah menjadi bagian dari gaya hidupnya masing-masing, terutama dikalangan remaja dan pemuda. Hal ini diungkapkan Daro (nama samara) seorang pegawai muda di Gedung Keuangan Negara Provinsi NTT saat dimintai informasi lewat e-mail. Selain sebagai pegawai kantoran, Daro yang masih lajang mengaku sebagai salah satu bagian dari kaum berpemahaman free sex not bad. Daro juga mengaku sering melakukan hubungan intim terkhusus dengan teman kencan dari kalangan remaja. Dia memberi informasi bahwa di kalangan remaja kota Kupang free sex adalah salah satu bentuk pencarian jati diri. Hal ini dikarenakan salah dalam bergaul. Saat ditanya apakah kaum mudi menginginkan uang layaknya seorang pelacur dari teman kencannya? Daro menjawab “kalau mau di bilang untuk mencari uang tidak juga karena latar belakang kehidupan mereka adalah keluarga yang berada dan tidak berkekurangan.”

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Daro. Sewaktu di Kupang sekitar pertengahan Februari 2009, penulis pernah berkunjung ke Dancing House bersama 2 orang teman. Disana dengan dibantu seorang teman kami bisa mengobrol dengan beberapa remaja wanita yang sedang asyik mengobrol dan bersenda gurau satu dengan lainnya.

Mereka yang mengaku dirinya anak gaul kota Kupang bertanya, “kalau di Jawa kakak sering ke tempat-tempat seperti ini?”

Aku pun menjawab “percaya atau sonde (tidak) ini pertama kalinya bta (saya) ke tempat seperti ini.”

Dengan senyuman dan tawa mengejek mereka berkata “Masak? Jangan-jangan kakak masih virgin (perjaka)?”

Wow, sebuah pertanyaan yang cukup mengagetkan yang keluar dari mulut seorang perempuan berumur 16 tahun batinku. Aku pun hanya tersenyum dan diam seribu bahasa.

Karena melihatku diam dan tak menjawab pertanyaan tersebut mereka semakin tertawa. Salah satu dari mereka berkata “Masak sih seorang seperti kakak masih virgin? Kalah donk sama ketong (kami) yang dari Kupang. Sonde jamannya lagi virgin-virginan.”

Obrolan ini terus berlanjut sampai jam 2 malam, waktu dimana Dancing House harus tutup. Dalam batinku aku telah mendapat sebuah cerita. Cerita yang akan kutulis dan kubagi kepada banyak orang tentang kondisi dan gaya hidup para remaja dan pemuda di kota ini, gaya hidup yang bertentangan dengan faham ketimuran.

HIV/ AIDS.

Pergaulan dan gaya hidup masyarakat di Kupang memang semakin berbeda dari waktu ke waktu dan mendekati sama dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bisa jadi hal seperti ini tidak hanya terjadi di Kupang namun juga di wilayah lain di Provinsi NTT. Kondisi seperti ini berakibat pada jumlah peningkatan penderita HIV dan AIDS di NTT. Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT dari tahun 1997 sampai dengan 31 Mei 2008 memperlihatkan bahwa jumlah penderita HIV dan AIDS selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari grafik yang tertera di gambar 1. Untuk kasus HIV, peningkatan tertinggi terjadi pada kurun waktu 2003-2004 dengan jumlah peningkatan mencapai 23 kasus. Untuk AIDS, kurun waktu tahun 2006-2007 adalah yang terburuk dengan peningkatan jumlah kasus mencapai 41.

Sedangkan presentase kasus HIV dan AIDS di Provinsi NTT berdasarkan jenis pekerjaannya (gambar 2) memperlihatkan bahwa pekerja seks komersial (PSK) menempati posisi teratas sebesar 27%, diikuti tenaga kerja Indonesia (TKI) sebesar 13%, lalu pegawai negeri sipil (PNS) 9% dan sebagainya. Untuk Persentase kasus HIV dan AIDS di Provinsi NTT berdasarkan golongan umur (gambar 3), umur 35-39 thn adalah pemegang urutan tertinggi 37%, diikuti umur 30-34 thn sebesar 23% dan sebagainya.

Dari jumlah penderita HIV dan AIDS di Provinsi NTT (gambar 4), kota Kupang menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah total sebanyak 119 kasus. Terdiri dari HIV sebanyak 79 kasus dan AIDS 40 kasus. Dari total 119 kasus, jumlah yang telah mati sebanyak 28 orang.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Oleh : Ferdinand U.R Anaboeni

Iklan

Gagal, Tidak Berarti Tamatnya Kiprah Politik !!

Belajar Dari Seorang Persiden
Amerika Serikat, dari sejumlah
kegagalan dalam kiprah
politik, Abraham Lincoln pada
akhirnya mampu menjadi Presiden.

Abraham Lincoln merupakan figur kuat dan perlu dijadikan panutan oleh berbagai politisi pada masa kini. Lincoln merupakan Presiden yang dikenal dengan pidatonya yang bergema kuat tentang defenisi demokrasi dalam sejarah Amerika. Presiden Lincoln dalam pidatonya memberi kesimpulan defenisi demokrasi dengan menyatakan ‘pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’. Pada akhir naskah pidatonya di tulis ‘…pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, takkan pernah menghilang dari muka bumi ini’.

Dibalik dari pidato bergema yang menjabarkan unsur paling hakiki dari pemerintahan demokratis, Lincoln mempunyai sejumlah kisah ‘kegagalan’ dalam kiprah politiknya. Sebelum terpilih sebagai presiden Lincoln melewati berbagai kegagalan untuk menjadi orang nomer satu di negeri paman Sam.

Sejumlah kegagalan kiprah politik Lincoln antara lain : Ia kehilangan pekerjaan pada tahun 1832, Ia gagal menjadi juru bicara untuk DPR negara bagian pada tahun 1934, Ia menderita gangguan saraf pada tahun 1836, Ia ditolak untuk menempati pejabat pertahanan pada tahun 1849, Ia gagal menjadi anggota Senat pada rahun 1854, Ia gagal menjadi anggota Senat pada tahun 1859, pada tahun yang sama (1859) Ia kembali gagal dalam nominasi calon wakil presiden Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1860 Lincoln terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Bukan main. Lincoln patut mendapat gelar sebagai ‘politikus ulung yang kuat’ karena ia tidak ditundukkan oleh sederet kegagalan kiprah politik. Ia membuktikan bahwa kegagalan tidak berarti matinya kiprah politik dengan menjadi Persiden Amerika Serikat pada tahun 1860.

Dalam pesta demokrasi di Indonesia pada tahun 2009 ini, terdapat tidak sedikit politikus yang gagal untuk duduk sebagai anggota legislatif. Sebagian dari caleg yang gagal mengalami depresi bahkan gangguan jiwa. Kenyataan ini membuktikan bahwa banyak politikus kita yang belum siap untuk menerima kekalahan.

Sejumlah materi, tenaga dan pikiran yang dicurahkan pada pemilu belum dapat mengantar mereka ke kursi legislatif. Karena itu banyak dari calon anggota legislatif yang menganggap kiprah politiknya telah tamat pasca gagal untuk duduk dalam lembaga legislatif.

Tetapi tidak demikian. Kisah kegagalan Lincoln membuktikan bahwa satu, dua, dan tiga kegagalan atau lebih belum mampu menamatkan kiprah politik seseorang. Kegagalan tidak menjadikan kiprah politiknya tamat karena Lincoln siap sekaligus berani untuk menerima setiap kekalahan. Sikap tegar dan kuat dalam menghadapi sejumlah kekakalahan inilah yang akhirnya mengantarkan Lincoln pada kursi presiden.

Pengalaman Lincoln, menegaskan bahwa gagal menjadi anggota legislatif tidaklah menamatkan kiprah politik. Melalui pengalamannya Lincoln mengajarkan betapa pentingnya sikap ‘siap untuk menerima kekalahan’. Abraham Lincoln, membuktikan bahwa kegagalan hanya sebagai kerikil kecil bagi kesuksesan kiprah politik. Lincoln, mengajak kita yang pernah gagal untuk tetap berkiprah dalam berbagai hal-hal positif.

Oleh : Paristo Runuwali

“Kuberi Sekilo Kau Kembalikan Aku Dua Kali Lipat”, Lahan percontohan : Sarana penyediaan bibit unggul di Sumba Tengah.

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar ataupun melihat kata “Lahan Percontohan”? Tentu pada umumnya berpendapat bahwa lahan percontohan adalah sebuah lahan tanah yang dijadikan contoh untuk budidaya tanaman pertanian. Di berbagai daerah di seluruh penjuru tanah air tentu telah memiliki lahan percontohannya masing-masing. Begitupun di Sumba Tengah, sebagai salah satu kabupaten baru di negeri ini Sumba Tengah juga telah memiliki lahan percontohannya sendiri. Tepatnya 50 Ha untuk tanaman padi, 10 Ha untuk tanaman jagung serta 5 Ha untuk tanaman kacang merah. Khusus untuk tanaman padi daerah penyebarannya adalah 21 Ha yang terdapat di Mamboro, 1.5 Ha di Katikutana, 16.5 Ha di Katikutana Selatan, serta 11 Ha berada di Umbu Ratu Nggai Barat.

Johanis S. Djurumana selaku petugas pengawas dan sertifikasi benih Dinas Pertanian kabupaten Sumba Tengah lewat percakapan telepon menjelaskan bahwa lahan yang digunakan ini sebenarnya adalah milik petani dan bukan lahan atau tanah milik pemerintah. Seperti pepatah kuno “tak ada asap bila tak ada api”, maka dari itu lahan percontohan ini ditujukan selain sebagai lahan contoh untuk para petani lainnya juga bertujuan merubah pola tanam petani yang masih tradisional dan yang tak kalah penting adalah penyediaan bibit unggul. Penyediaan bibit unggul yang dimaksudkan Johanis adalah pemerintah dalam hal ini dinas pertanian kabupaten memberikan bantuan kepada para petani di lahan contoh berupa benih unggul, pupuk, petisida dan herbisida secara cuma-cuma. Dengan catatan para petani wajib mengembalikan benih unggul tersebut 2 kali lipat banyaknya kepada pemerintah. Misalkan diberikan 1 kg maka harus dikembalikan 2 kg, sedangkan untuk hasil tani berupa padi menjadi milik petani sepenuhnya dan bukan milik pemerintah. Ketersediaan benih unggul ini menjadi penting agar pola tanam dengan penggunaan bibit lokal yang hanya menghasilkan padi 2 ton/Ha bisa menjadi 13 ton/Ha dengan menggunakan bibit unggul, kata Johanis. Untuk distribusi benih unggulan, pupuk serta petsitida dan herbisida diberikan lewat Gapokan (gabungan kelompok tani) yang telah ada di tiap desa.

Setiap program pemerintah tentu tidak selamanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang telah dicanangkan dan direncanakan. Begitupun juga untuk program lahan percontohan ini, Johanis menceritakan bahwa kendala yang umum ditemui dalam penerapan program ini adalah budaya malas dari petani akibat dari budaya pesta yang mereka lakukan. Budaya pesta ini membuat petani mengurangi waktu untuk berproduktif atau bertani yang seharusnya 8-9 bulan pertahun menjadi hanya 4 bulan pertahun. Selain itu juga kendala yang dihadapi adalah faktor rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM). Para petani ternyata kurang memahami cara budidaya yang baik seperti: ada beberapa petani yang menolak menggunakan pupuk dengan alasan tanah mereka cukup subur dan telah lama menghasilkan padi tanpa perlu menggunakan pupuk. Ada juga yang menolak menggunakan bibit unggul dengan alasan penggunaannya terlampau sedikit untuk tiap hektarnya (25 kilo/Ha), mereka lebih suka memakai benih lokal dengan jumlah 60 kg/Ha. Hal ini karena mereka memakai logika kuno yakni “semakin besar jumlah benih pasti semakin besar hasil taninya”. Dari kedua alasan diatas Johanis menerangkan bahwa hal itu adalah salah, seharusnya petani sadar bahwa setiap tanah memiliki kadar kesuburan yang bisa habis karena terlalu sering ditanami. Untuk itulah pupuk menjadi penting agar tingkat kesuburan tanah kembali ke kondisi semula dan dapat memperoleh hasil tani yang maksimal. Untuk jumlah bibit per hektar Johanis menjelaskan bahwa logika berpikir mereka jelas salah. Dengan menggunakan bibit unggul seharusnya petani bisa berhemat untuk menghasilkan padi yang lebih baik dan banyak. Misalkan untuk target 10-13 ton per hektar, dengan bibit unggul hanya memerlukan 25 kg per hektarnya, sedangkan dengan bibit lokal memerlukan benih sebanyak 60 kg.

Meskipun ada segelintir petani yang menolak namun tidak sedikit juga yang menerima program pemerintah ini. Untuk itulah Dinas Pertanian kabupaten Sumba Tengah merasa perlu untuk selalu memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada mereka. Pendampingan yang dilakukan dimulai sejak persiapan lahan sampai dengan pemanenan dengan detail kurun waktu pendampingannya sendiri sebanyak 2 kali dalam 2 minggu sebelum semai/tanam, dan 3 kali dalam 3 bulan setelah tanam sampai masa panen.

Lahan percontohan ini sendiri dianggap penting oleh dinas pertanian karena menyangkut ketersediaan bibit di Sumba Tengah. Dan bagi mereka, ini bukanlah program coba-coba namun memang sudah harus dilakukan. Oleh karena itulah dinas pertanian harus selalu ke lapangan yakni melakukan pengawasan benih, hama serta penyakit.

Dengan melihat luasnya hamparan lahan yang ada di Sumba Tengah Johanis berpendapat bahwa bukan tidak mungkin Sumba Tengah mampu menjadi daerah lumbung pangan. Terlebih untuk pulau Sumba, Sumba Tengahlah yang terluas wilayah lahan pertaniannya lanjutnya. Untuk saat ini langkah awalnya adalah dengan memaksimalkan lahan percontohan dengan tujuan agar para petani mau dan mampu merubah pola tanam mereka. Dan tidak lupa Johanis menuturkan “asalkan pemimpinnya siap turun ke sawah”.

Oleh : Ferdinand U.R Anaboeni

GOGALI FM : Kesetiaan Pelayanan Informasi Di Sumba Tengah

Nama Gogali diambil dari nama burung. Menurut informasi yang diperoleh, burung Gogali terdapat di wilayah Sumba Tengah. Burung Gogali adalah burung yang dikenal setia. Burung Gogali selalu setia untuk melindungi, merawat, dan mencari makan bagi induk dan anaknya. Bahkan apabila induk burung Gogali sakit, burung Gogali (jantan) akan merawat dan akan selalu bersama dengan induk gogali disarangnya. Selain karekateristik setia gogali juga dikenal juga dengan suara yang merdu dengan karakteristik tersendiri.

Pemberian nama Gogali terhadap radio Gogali FM, merupakan symbol karakter dari burung Gogali yang diharapkan mampu menjadi panutan bagi Gogali FM dalam melakukan pelayanan publik di Sumba Tengah. Menurut Ibu Deby, sebagaimana burung Gogali radio Gogali FM tetap setia terhadap masayarakat Sumba Tengah, dengan karakteristik tersendiri untuk melakukan transformasi khususnya dalam bidang informasi di Sumba Tengah.

Radio gogali merupakan radio pertama yang menjadi media informasi bagi masyarakat Sumba Tengah. Radio Gogali mulai beroperasi sejak tanggal 19 November 2008. Radio Gogali merupakan radio non-pemerintah bantuan dari kedutaan Belanda bekerjasama dengan KBR 68 H. Saat ini Radio Gogali bekerja sama dengan pemerintah Desa Wairasa, dengan meminjam ruangan kantor desa untuk digunakan oleh Gogali FM. Lokasi radio Gogali FM terletak kantor desa Wairasa yang dekat dengan jalan utama kabupaten Sumba Tengah.

Menurut ibu Deby General Manager Radio Gogali FM, tujuan radio gogali adalah melakukan transformasi inforamasi bagi masyarakat Sumba Tengah. Transformasi informasi melalui penyadaran dan pengembangan masyarakat di Sumba Tengah, pada akhirnya diharapkan akan mampu memberi umpan balik (Feed back) melalui aksi dan partisipasi masyarakat untuk ikut terlibat dalam proses pembangunan di daerah Sumba Tengah khususnya. Tujuan ini sejalan dengan keadaan Sumba Tengah sebagai daerah otonomi baru.

Untuk mengelola radio Gogali FM, dibentuk suatu komunitas Radio Gogali. Anggota komunitas ini merupakan masyarakat Sumba Tengah yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan pelayanan publik di Sumba Tengah. Pembentukan komunitas ini didorong oleh semangat idialisme untuk yang kuat untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat Sumba Tengah.

Program-program radio Gogali terdiri dari tiga kategori. Pertama, program lokal. Isi programnya antara lain informasi tentang pertanian, pendidikan, kesehatan, hukum, HAM dan demokrasi dan keamanan. Kedua, program hiburan. Isi programnya berupa hiburan baik berupa lagu-lagu daerah ataupun lagu-lagu baik yang trend saat ini. Ketiga, program kerja sama dengan KBR 68 H. Isi programnya adalah berita-berita baik pada aras nasional, regional dan lokal.

Fokus program Gogali FM adalah program lokal. Salah satu program lokal yang paling diminati oleh masyarakat Sumba Tengah adalah program ‘Sumba Tengah Berbicara’. Program ini mengangkat tema-tema aktual dalam berbagai hal, didesain dalam bentuk dialog interaktif yang memungkinkan pendengar sekaligus berlaku sebagai nara sumber. Contohnya adalah program talk show menjelang pemilu, untuk mengelaborasi kerangka pikir para calon legislatif kepada masyarakat, ataupun program ‘Sumba Tengah Bicara’. Program-program semacam ini disiarkan pada oleh Gogali FM setiap hari pada pukul 19.00 hingga pukul 21.00 WIT. Menariknya minat masyarakat untuk program ini sangat tinggi, banyak anggota masyarakat ikut berpartisipasi dalam program talk show dan ‘Sumba Tengah Bicara’. Masyarakat Sumba Tengah di kampung-kampung berkumpul disuatu tempat yang memiliki radio untuk mendengarkan program-program ‘Sumba Tengah Bicara diradio Gogali FM.

Menyinggung masalah manfaat, menurut ibu Deby Gogali belum dapat memberikan keterangan manfaat dengan data-data akurat, karena sampai dengan saat ini belum dilakukan suatu survey. Tetapi berdasarkan diskusi, respon dan tanggapan masyarakat terhadap program-program yang ditawarkan menurutnya paling tidak Gogali telah bermanfaat dalam dua hal. Pertama, yang paling dirasakan adalah pada pelaksaan pemilu legislatif yang lalu. Gogali FM melalui program dialog interaktif dengan para calon anggota legislatif telah mampu untuk memberi referensi bagi kalangan masyarakat pemilih. Dengan informasi yang cukup masyarakat pemilih di Sumba Tengah telah mampu terhindar dari pilihan-pilihan berdasarkan fanatis kampung atau fanatis saudara. Kedua, terkait dengan tujuan utama Gogali FM. Gogali FM telah mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat Sumba Tengah, melalui program-program pendidikan, demokrasi, kesehatan, pertanian dan beberapa program lainnya. Misalnya masyarakat telah memiliki informasi untuk hidup sehat, masyarakat Sumba Tengah memiliki referensi untuk mengolah makanan lokal secara sehat.

Mengelola radio bukan tanpa tantangan. Menurut ibu Deby terdapat beberapa tantangan yang memang perlu menjadi perhatian. Seperti diungkapkan oleh Bupati ST pada saat louncing yang juga dihadiri oleh duta besar Belanda bahwa radio Gogali akan menjadi wahana penyadaran, pendidikan, pengembangan, dan sumber informasi bagi masyarakat Sumba Tengah. Tantangan pertama adalah, bagaimana pemerintah daerah mau untuk menggunakan Gogali dalam menginforamsikan berbagai program-program pembangunan. Tantangan yang kedua adalah, bagaimana informasi radio Gogali dinikmati oleh masyarakat Sumba Tengah secara merata disetiap wilayah. Saat ini diperkirakan baru terdapat sekitar 1.000 redio yang dimiliki masyarakat termasuk 300 yang dibagikan oleh Gogali FM. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat Sumba Tengah dapat memiliki radio sebagai media informasi. Tantangan yang ketiga adalah, kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh radio Gogali FM. Sumber daya yang memulai operasi dari nol dengan minimnya pengetahuan dan pengalaman. Memang telah dilakukan pelatihan oleh pusat pengembangan media nasional, tentang bagaimana merancang program radio, berita ataupun memelihara berbagai peralatan namun sampai saat ini kami masih merasakan masih kurang. Tantangan yang keempat adalah, tidak adanya biaya oprasional ditengah tingginya minat masyarakat terhadap akses informasi melalui radio. Tidak dapat dipungkiri bahwa 13 orang anggota yang karena idialismenya mau untuk meluangkan sekian waktu dan tenaga untuk melayani inforamsi bagi masyarakat di Sumba Tengah membutuhkan kesejahteraan. Untuk saat ini memang ada biaya dari PTMN Rp. 4.500.000,00 tetapi menurut ibu Deby inipun hanya mampu untuk membiyayai biaya rutin opresional radio dan belum mampu untuk membiyayai gaji dari 13 orang yang berkerja di Gogali FM.

Diakhir wawancara, ibu Deby mengungkapkan harapannya terhadap pemerintah daerah Sumba Tengah untuk memberikan perhatian khususnya terhadap tantangan yang dihadapi oleh radio Gogali FM.

Oleh : Paristo Runuwali

SELANGAKAH UNTUK MENUJU SUMBA TENGAH YANG LEBIH SEJAHTERA

Sebagai Respon Forum Masyarakat Peduli Sumba Tengah (FMPST) Terhadap Seminar dan Musyawarah Adat yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah maka kami merasa terpanggil untuk berkontribusi terhadap kegiatan tersebut. Layak kirinya kita memberikan apresiasi dan dukungan yang tinggi terhadap kegiatan ini. Sebab hasil dari seminar dan musyawarah ini menjadi terobosan baru bagi kabupaten Sumba Tengah untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Sumba Tengah. Ada banyak pendapat dan asumsi yang menyatakan bahwa sumber utama ketertinggalan masyarakat Sumba terletak pada tradisi dan adat yang dianutnya. Pernyaan tersebut tentu saja bisa salah dan bisa juga ada benarnya. Tergantung kita yang merasakan secara langsung kemiskinan itu. Apakah kemiskinan yang ada sebagai akibat daritradisi dan adat yang kita anut atau ada faktor lain yang membuat kita miskin.

Berikut ini merupakan hasil diskusi FMPST yang dilakukan pada tanggal 9, 10, dan 11 November 2009 di kota Salatiga yang melibatkan anggota FMPST dari kota Gudek Jogjakarta. Semoga butir-butir pemikiran ini dapat berguna dalam membantu semua pihak yang memiliki kepedulian untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Sumba Tengah. Karena keterbatasan ruang dalam dalam buletin ini maka tidak semua hasil diskusi dapat kami disajikan. Namun dalam rekomendasi tertulis yang akan kami sampaikan pada hari pelaksanaan Seminar dan Musyawarah Adat akan secara terperinci memuat tentang hasil diskusi FPMST.

Jika dilihat dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia di Sumba, maka terjadi paradoks antara SDM dan SDA yang ada dengan kondisi masyarakat Sumba yang serba berkekurangan. Ini ditandai dengan masih banyaknya masyarakat dengan predikat miskin, tingkat pendidikan yang rendah, dan juga kepedulian masyarakat terhadap masalah kesehatan yang masih rendah. Akibatnya terjadi jurang pemisah yang semakin lebar antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin. Atau dengan kata lain yang kaya tetap menjadi kaya dan yang miskin tetap menjadi miskin.

Selain terjadinya paradoks antara SDM/A dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, fenomena ini juga merupakan antiklimaks dari penyakit-penyakit masyarakat yang selama ini tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat seperti pencurian, perampokan dan perjudian. Praktek-praktek seperti ini seolah-olah mendapatkan legitimasi yang kuat dari masyarakat sehingga eksistensinya tetap diterima dalam kehidupan mereka. Lebih Ironis lagi penyakit-penyakit masyarakat ini sudah melibatkan elite didalamnya seperti pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, aparat keamanan dan lain-lain. Sehingga upaya pemberantasannya pun menjadi semakin sulit karena orang-orang yang diharapkan mampu menjadi contoh dan teladan dalam masyarakat malah terlibat dalam praktek-praktek pencurian, perampokan dan perjudian.

Dari perspektif kebudayaan dan pertanian, masyarakat ST juga masih tertinggal dalam dua hal ini. Masyarakat beranggapan bahwa apa yang hidup dalam masyarakat sedapat mungkin di pertahankan dan jangan mudah untuk mengadakan perubahan. Apa sedang dijalani sekarang merupakan tradisi (kebudayaan berasal dari tradisi masyarakat yang kemudian menjadi kebudayaan) yang perlu untuk dilestarikan sekalipun ekonomi dan masa depan adalah taruhannya.

Sama halnya dalam bidang pertanian, Sumba masih tertinggal jauh dengan daerah lain dalam pengolahan lahan pertanian. Petani Sumba masih setia dengan menggunakan sistem pertanian tradisional untuk mengolah lahan pertanian mereka. Akibatnya biaya untuk pengolahan dengan sistem seperti itu menjadi semakin mahal karena membutuhkan waktu yang cukup lama. Padahal cara-cara modern yang telah praktekan pada daerah lain telah mampu mengangkat derajat petani untuk sama dengan profesi-profesi yang lain dalam hal pendapatan. Untuk itu mengadopsi sistem pertanian modern seperti pemupukan, pemasaran dan pengolahan menjadi hal yang sangat penting untuk segera dilaksanakan.

Persoalan-persoalan inilah yang kemudian harus direspon dan dicari solusinya untuk mendapatkan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik di ST.

Menciptakan Suana Yang Aman Dalam Masyarakat

Kondisi ketenteraman dan ketertiban masyarakat terutama masalah pencurian ternak dan perampokan merupakan salah satu isu utama di Kabupaten Sumba Tengah. Situasi seperti itulah ( tidak aman ) yang memicu masyarakat lainnya (pencuri) mengkerdilkan potensi beternak ( kecil- Besar ), yang kemudian berefek pada kemiskinan. Karena secara umum masyarakat ST selain bertani, potensi lain yang dimiliki adalah beternak.dan kedua potensi tersebut ( Bertani dan Beternak ) merupakan sumber kelangsungan hidup dari masyarakat Sumba tengah.

Kebutuhan akan keamanan oleh masyarakat ST adalah kebutuhan yang mendesak dan harus segera dipenuhi karena keamanan dan ketertiban dilingkungan dapat menumbuhkan kembali gairah beternak tanpa harus dibebani dengan situasi lingkungan yang tidak aman. Pada satu sisi keamanan dan ketertiban dalam suatu masyarakat adalah salah satu faktor pendukung suksesnya pembangunan di kabupaten Sumba Tengah.

Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka perberdayaan terhadap aparat penegak hukum menjadi hal yang segera untuk dilakukan. Karena ketidakamanan dan tidak tertiban lingkungan masyarakat yang semakin berkepanjangan akan berakibat pada penambahan peluang kemiskinan internal di kab Sumba Tengah melalui pencurian dan perampokan.

Selain beberapa pendekatan yang bersifat teknis ada baiknya juga menggunakan pendekatan yang bersifat partisipatif. Pendekatan partisipatif tersebut bertujuan untuk mewujudkan perubahan sosial dan perberdayaan masyarakat agar ketimpangan dan ketidakadilan dapat dihindari. Sehingga masyarakat dapat menikmati hasil pembangunan secara adil dan merata yang pada gilirannya kesejahtraan masyarakat juga meningkat.

Menyelaraskan Proses Pembangunan Berbasis Kebudayaan.

Penganalisaan mengenai konsepsi pembangunan yang berbasis kebudayaan, titik sentralnya terletak pada proses perencanaan pembangunan yang berorientasi pada nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Seharusnya, proses penyusunan rencana pembangunan harus didasarkan dengan melalui hierarki sebagai berikut: identifikasi nilai dalam masyarakat, penyusunan paradigma, penyusunan konsep, dan perencanaan aplikasi. Indentifikasi nilai dimaksudkan untuk mengeksplorasi informasi sebanyak-banyaknya tentang nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, nilai-nilai yang dimaksud harus menunjukan nilai budaya komunal dominan dalam masyarakat, hal ini harus dilaksanakan agar proses pembangunan yang hendak dilaksanakan tidak bertabrakan dan sesuai dengan kondisi nilai-nilai masyarakat setempat. Dari identifikasi nilai-nilai tersebut, untuk mengetahui kondisi masyarakat secara umum, maka diidentifikasi paradigma masyarakat, yaitu berkaitan dengan cara pandang masyarakat, bagaimana masyarakat memandang dirinya, bagaimana masyarakat memandang lingkungan di luar dirinya, bagaimana masyarakat memandang pembangunan, dan lain sebagainya. Setelah pengidentifikasian nilai dan paradigma, maka langkah selanjutnya adalah penyusunan konsep pembangunan, dengan mendasarkan pada nilai dan paradigma yang berkembang dalam masyarakat. Langkah terakhir dari mekanisme tersebut yaitu penyusunan rencana baku untuk kemudian diaplikasikan. Proses identifikasi nilai dan paradigma dalam masyarakat harus mampu memperkirakan kondisi nilai dan paradigma di waktu yang lalu, saat ini, dan masa yang akan datang.

Sementara itu kehidupan masyarakat serba dinamis. Setiap kebudayaan juga memiliki kecenderungan untuk berubah, karena kenyataan yang dihadapi manusia sehari-hari juga tidak merupakan keteraturan yang kaku. Diantara unsur-unsur kebudayaan yang berbeda-beda maka terdapat dinamika masyarakat yang terus berkembang dan dapat menimbulkan ketidak serasian lagi dengan fungsinya. Maka keadaan itu menuntut perubahan.

Seringkali dalam masyarakat perubahan itu bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan karena ada kelompok masyarakat tertentu yang tidak menghendaki perubahan itu. Maka terjadi konflik antara kelompok yang pro terhadap perubahan dan yang konservatif. Untuk itu perlu musyawarah bersama agar mendapat kesepakatan bersama terhadap hal yang menjadi persoalan tadi.

Biasanya perubahan tidak dapat dihindari untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan yang sudah berkembang. Tetapi perubahan hendaknya didahului dengan pertimbangan yang matang karena perubahan itu membawa dampak yang luas bagi masyarakat. Perubahan yang dilakukan dengan tergesah-gesah dan berlebihan dapat mendatang kekacauan.

Pembangunan Pertanian Berbasis Pertanian Lahan Kering

Lahan kering di Kabupaten ST masuk dalam golongan lahan kering iklil kering, sebab mendapat curah hujan 2000mm/Tahun. Keadaan ini terjadi akibat adanya pergeseran musim penghujan di daerah tersebut. Sedangkan berdasakan ketinggian tempatnya, lahan kering di kab ST tergolong dalam lahan kering dataran rendah dengan ketinggian 20 s/d 700 m dari permukaan laut.

Komuditas yang diusahakan di ST tentunya harus disesuaikan dengan kondisi setempat seperti jaringan pemasaran dan manfaat ekonomi. Arah pengembangan pertanian di ST adalah pengoptimalan terhadap 3 tiga kelompok pertanian antara lain: Pertanian tanaman pangan (padi ladang, jagung, kedelai, kacang dsb), pertanian bahan baku industri (kopi, cengkeh panili, karet, kelapa sawit dsb) dan pertanian Holticultura (Buah-buahan dan sayuran). Untuk mendukung komoditas di atas maka strategi pembangunan lahan kering dapat meliputi: penyelesaian masalah irigasi, memberi asupan teknologi kepada petani, membentuk jaringan pemasaran serta pelatihan dan pendampingan kader tani mudah.

Dalam membangun pertanian yang berkelanjutan pengelolaan agroekosistem lahan kering dapat dipandang sebagai upaya memperbaiki dan memperbaharui sumber daya alam yang bisa dipulihkan. Oleh karena itu dalam pengelolaan yang berkelanjutan perlu pendekatan lingkungan dengan mengikuti kaidah pelestarian lingkungan. Maka terdapat beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk pengolahan yang berkelanjutan. Pertama, Konservasi lahan. Konservasi menjadi sangat penting karena kerusakan lahan sebagai akibat dari eksplorasi yang terjadi secara terus menerus. Kedua, Pengaturan pola tanaman. Dalam pengaturan pola tanam maka harus diperhatikan pengkombinasian beberapa tanaman pangan. Sebaiknya dalam satu lokasi tanaman hendaknya tidak labih dari 4 jenis tanaman saja. Karena apabila terdapat lebih dari 4 jenis tanaman dalam satu lokasi maka akan terjadi kompetisi yang tidak sehat antar tanaman. Ketiga Embung. Embung atau Tandon air adalah waduk berukuran mikro dilahan pertanian (Small Farm Reservior ) yang dibangun untuk menampung kelebihan air diwaktu musim penghujan dan penggunaannya pada dilakukan pada musim kemarau. Keempat Pemakaian Pupuk Organik. Pengolahan lahan kering pertanian secara terus menerus akan menyebabkan lahan menjadi kurus sehingga untuk usahatani selanjutnya perlu input yang banyak untuk mengembalikan unsur hara yang terkandung dalam tanah yang sudah banyak diserap tanaman pendahulunya. Untuk itu penggunaan pupuk organik menjadi sangat penting.

Dengan menjadikan beberapa hal diatas sebagai skala prioritas oleh semua pihak terkait maka tanpa disadari kita telah selangkah menuju ST yang lebih sejahtera.

Oleh : Oscar Umbu Siwa