Oma Tra Sombong

Alka – pada suatu hari… ada seorang oma lagi bajalan di bundaran kota… trus oma ada liat tukang ojek… trus dia ta senyum… tukang ojek ni lagi bawa motor dengan laju kencang… oma batariak… “Ojek…Ojek…” tukang ojek langsung barenti sampe dorang hampir jatuh… trus tukang ojenk bale muka… “Ada apa oma?” , “oma ada diantar kemana?”. Kata oma ” ah tidak… oma cuma panggil ko… nanti ko bilang oma Sombong lagi…”

Iklan

ADAT versus CINTA

Ferdinand U.R Anaboeni – Apa yang terjadi bila cinta terbelenggu oleh aturan adat?? Dapatkah para penetua-penetua adat sebagai sang pembuat aturan adat membuka mata dan hati untuk mau mengikuti arus perubahan zaman??

Siksaan ini bagaikan sebuah belati yang menusuk tepat di jantung. Sebuah tusukan yang membuat darah mengalir keluar dengan deras dan mengakibatkan kekeringan total bagi tubuh. Tubuh yang kering oleh darah ini bagaikan sebuah pohon ara yang berada di tengah gurun sinai yang rindu dan haus akan jernihnya air kehidupan, ‘CINTA’. (Ferdi)

Aku bukanlah seorang antipartian yang tak mengakui dan menentang eksisnya sebuah adat kebiasaan dan hukum adat. Selama hidupku, aku tak dibesarkan dibawah bayang-bayang hukum dan peraturan adat. Aku terlahir di dalam keluarga yang penuh kasih serta cinta dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, moderenisasi dan liberalis.

Liberalis, seluruh anggota keluarga bebas dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya tanpa mengesampingkan hukum kasih Kristus.

Demokrasi, seluruh anggota keluarga memiliki hak untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya tanpa mengesampingkan pendapat serta pandangan dari anggota keluarga yang lain.

Moderenisasi, seluruh anggota keluarga selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa mengesampingkan norma dan etika dalam bermasyarakat.

Ketiga nilai itulah yang membuat aku tumbuh dan berkembang menjadi seorang human perfect. Secara pribadi, Human perfect berarti, bagaimana seorang manusia dalam kehidupan sosialnya selalu menempatkan kasih karunia Tuhan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Aturan dan tata cara hidup bersosial selain hukum kasih bagiku hanyalah second law atau pelengkap. Sama halnya dengan adat kebiasaan dan hukum adat, hukum kasihlah yang harus menjadi first priority, bukan Dia (hukum adat, Red).

Hukum adat oleh wikipedia didefinisikan sebagai: “sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India dan Tiongkok. Sumbernya adalah peraturan-peraturan tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.” Yang perlu digaris bawahi adalah, hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.

Bagi Kahlil Gibral, ia menyebut hukum adat dengan kebiasaan (tradisi, Red) yang usang sebagai sebuah bentuk perbudakan (mengacu pada ‘Perbudakan’ karya Gibran dlm. Martin L. Wolf (ed), Treasury of Kahlil Gibran, Yogyakarta: Tarawang Press, 2002). Pada zaman Gibran – dan mungkin sampai saat ini di hampir sebagian besar di Timur Tengah – masih menganggap adat kebiasaan dan hukum adat sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang mesti ditaati dan dihormati, tanpa mengindahkan hakikatnya yang sesungguhnya. Bahwa hukum adat dan kebiasaan harus berangkat dari kepentingan kemanusiaan, dan harus pula menjunjung tinggi nilai-nilai asasi manusia. “Aku temukan perbudakan buta, yang mengikat kehidupan manusia dengan kelampauan zaman para orang tua, dan mendesaknya tunduk pada adat dan kebiasaan mereka, dengan menempatkan semangat kuno dalam raga belia.”

Gibran menyebut hukum adat dan kebiasaan sebagai bentuk perbudakan buta, karena keduanya yang seharusnya memberikan dan menunjang nilai-nilai kemanusiaan justru sebaliknya menjadi pembelenggu kebebasan manusia.

Tak salah bila Gibran berpendapat seperti itu, sebagai contoh, dalam adat Padang Priangan (sumatera barat) seorang wanita diharuskan membayar sejumlah uang untuk membeli calon suaminya (istilahnya uang jemputan). Jumlah uang itu terbilang cukup besar antara 50-75 jutaan. Gila Bukan!! Lain lagi dengan budaya kawin/nikah paksa di hampir seluruh wilayah nusantara yang berlandaskan keinginan materil, budaya ini jelas memposisikan wanita sebagai warga kelas dua yang tak boleh didengarkan pendapat serta keinginan hatinya dan hanya akan menjadi obyek kekuasaan (orang tua, Red).

Gibran menyebut perbudakan jenis ini (kawin paksa, Red) sebagai perbudakan bisu, karena lingkungan sosial, tempat dimana hukum adat dan kebiasaan dijaga dan diwariskan tak dapat mendengar jeritan hati seorang wanita akan cinta yang sesungguhnya. “Aku temukan perbudakan bisu, yang mengikat kehidupan pria pada istri yang dibenci, dan menempatkan raga wanita di ranjang suami yang dibencinya, dan mematikan keduanya pada api hidup kerohanian mereka.”

Terkhusus untuk wilayah Anakalang – Sumba Tengah, tempat mengambil seorang istri dalam tata cara adat telah dibuatkan semacam peta wilayah administratifnya. Lelaki dari kampung A hanya boleh mengambil wanita dari kampung B, lelaki kampung A tidak boleh mengambil wanita dari kampung D, lelaki kampung B hanya boleh mengambil wanita dari kampung D dan lain sebagainya. Hal ini menurut beberapa narasumber bertujuan untuk menjaga kemurnian ras dan ikatan keluarga. Jadi dalam hukum perkawinan adat di Anakalang, seorang lelaki tidak boleh dengan sembarangan mendekati, memacari terlebih mempersunting seorang wanita.

Hhmm. . . . .sungguh berat. . .

Perasan cinta, kasih dan sayang layaknya sebuah boneka kayu yang terikat pada seutas tali dan sedang dipermainkan kesana dan kemari. Bila ikatan darah yang menjadi persoalan, ada dua pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban:

pertama, mengapa terdapat aturan adat yang memperbolehkan anak dari tante untuk mengambil anak omnya? Mengambil anak om sebagai istri bila dikaitkan dengan hubungan pertalian darah (biologis/gen) tentu saja tak dapat dibenarkan. Keturunan pertama dari saudara-bersaudari boleh saling mempersuntung istri, hal ini jelas menunjukkan dekatnya hubungan darah (sepupu kandung).

Pertanyaan kedua, bila seorang anak lelaki tante boleh mengambil anak perempuan dari omnya, bolehkah dibalik, seorang anak lelaki dari om mengambil seorang anak perempuan dari tante?

Alasan mengapa diberlakukannya wilayah administrative untuk mengambil calon istri berdasar pada data record keluar masuknya seorang anggota keluarga saat pernikahan dan juga asal muasal garis keturunan.

Bagaimana dengan pasangan muda-mudi yang karena cinta dan kasih sayang harus berbenturan dengan adat itu?? Maksudnya, pria dari kampung A ingin mengambil seorang wanita yang sangat dicintainya dari wilayah kampung yang secara adat dilarang. Bila ditilik dari garis keturunan jelas sudah sangat jauh hubungan pertalian darahnya. Mengapa masih saja tidak diperbolehkan?? Kenapa hubungan pertalian darah dekat malah diperbolehkan?? Bila dipaksakan pun hanya akan menjadi bahan cacian, makian serta pengucilan didalam masyarakat.

Sungguh tragis. . . . . Buat apa kita beragama kalau kita lebih mementingkan adat daripada agama. Bukankah secara ajaran agama, tidak ada penyelewengan terhadap ajaran-ajaranNya.

“Cinta telah berdiri di antara mereka, mengepakkan sayap untuk menjaga keduanya dari cercaan dan tikaman lidah-lidah manusia. Aku melihat saling pengertian tumbuh dari wajah-wajah jernih yang memancarkan keikhlasan dan dikelilingi kesucian. Baru kudapatkan untuk pertama kali selama hidupku, bayang-bayang kebahagiaan seorang pria dan wanita yang dihinakan oleh tatanan agama, dan dikucilkan oleh hukum-hukum manusia.” (Khalil Gibran)

Cinta yang dibangun dan dibina berlandaskan kasih karunia Tuhan tak akan dapat diruntuhkan oleh siapaun juga, termasuk aturan-aturan adat. Sudah saatnya hukum serta peraturan adat diformalisasi dan kembali pada sifatnya yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.

“Apakah manusia akan terus menerus menjadi hambatan tatanan hukum yang bobrok sampai akhir zaman? Ataukah hari-hari cerah akan membebaskan manusia agar dapat hidup dengan jiwanya? Apakah manusia akan tetap dibungkus dengan debu? Ataukah ia hadapkan kedua matanya ke arah matahari, agar tak dapat melihat jasadnya di antara onak dan bongkahan tulang-belulang?” (Khalil Gibran)

*** The Myth ***

SMA KRISTEN ANAKALANG : TERBAIK KE-DUA DI NTT

img_4786.jpgLAIKARUDA, (Talora) – Sebagai kabupaten baru, Sumba Tengah patut berbangga atas prestasi gemilang yang baru saja diraihnya di bidang pendidikan. Pengumuman kelulusan tingkat SMA menempatkan SMA Kristen Anakalang pada tingkat kelulusan terbaik ke dua di NTT. Prestasi gemilang ini selain mengangkat nama sekolah juga mengangkat nama kabupaten Sumba Tengah.

Saat ditemui redaksi, kepala sekolah SMA Kristen Anakalang Samuel Umbu Sorung S,Pd di dampingi staf menuturkan ini merupakan rencana Tuhan terhadap sekolah ini (sambil tersenyum). Dia (Tuhan, Red) bekerja melalui jerih payah teman-teman guru dan kesiapan dari siswa menghadapi ujian. Semangat kebersamaan dan disiplin pada akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan bahkan mengangkat nama kabupaten Sumba Tengah.

Dukungan moril berupa kehadiran orang tua dan PEMDA saat ujian nasional berlangsung juga turut membantu. Kami berasa leluasa dan mempunyai energi yang lebih. Kami tidak merasa sendirian sambung Erli Sabaora salah satu staf pengajar disana.

Tuntutan persiapan menghadapi ujian nasional tidak hanya menjadi beban siswa tetapi juga menjadi tanggungjawab sekolah.

Dalam menghadapi Ujian Nasional, sekolah dituntut kreativif untuk membekali para siswanya. SMA Kristen Anakalang menempuh langkah-langkah khusus untuk membekali siswanya melalui pengoptimalan waktu belajar, les tambahan, belajar kelompok, maupun karantina.

Bagi siswa yang memiliki tunggakan dan belum melengkapi urusan administratif, dewan guru mengambil kebijakan mengundang para orang tua siswa secara khusus. Hal ini dimaksudkan agar dalam menghadapi ujian nasional, para siswa secara psikologis tidak terganggu oleh tunggakan uang sekolah atau kelengkapan administratif. Konsentrasi para siswa benar-benar dipusatkan untuk persiapan ujian.

Bukan tanpa hambatan, SMA Kristen Anakalang kekurangan tenaga guru MIPA yang saat ini hanya berjumlah satu orang saja. Namun Pak Sam sapaan Samuel Umbu Sorung S,Pd tidak berdiam diri saja, demi anak didik tercinta ia terus berusaha dan berjuang.

Berawal dari kunjungan pengawas provinsi ke SMAK Anakalang yang bertugas memonitoring 4 kabupaten di Sumba, Pak Sam mulai mengeluarkan jurus jitu untuk melobi pengawas tersebut agar membantunya menjadi tenaga bantu mengajar, tentunya dengan pertimbangan lamanya pengawasan dan kemampuan yang dimiliki oleh dia (pengawas, Red).

Berkat tangan Tuhan, dengan senang hati pengawas tersebut bersedia membantu selama dia menjalankan tugasnya. “Tiada rotan akarpun jadi, tiada tenaga guru pengawaspun Ok” kata Pak Sam sambil tersenyum.

Usaha ini membuahkan hasil dengan tingkat kelulusan yang memuaskan sekalipun 15 siswa status kelulusannya tertunda, sehingga harus mengikuti ujian kesetaraan yang dikenal dengan paket C.

Prestasi ini tidak hanya dirasakan oleh pihak sekolah yaitu guru dan siswa tetapi juga oleh semua masyarakat Sumba Tengah. Melalui prestasi ini Kabupaten Sumba Tengah semakin dikenal bahkan diakui lewat mereka (anak-anak Sumba Tengah, Red). Namun ini semua bukan akhir, bagi kami keberhasilan ini akan menjadi beban atau cambuk untuk tetap mempertahankan bahkan jika Tuhan berkenan prestasi ini dapat meningkat, tutur Pak Sam

Buah dari perjuangan selama persiapan ujian hingga proses ujian, terlihat lewat tingkat kelulusan yang telah diraih. Prestasi gemilang dengan persentasi kelulusan; IPA : 92,86% dan IPS : 90,40%.

10 urutan terbesar dilihat dari Jumlah nilai tertinggi: (1) Satria Umbu Delu – 37,55. (2) Eduard Umbu Muka – 36,50. (3) Armen M.U. Ngailu – 36,40. (4) Tomi U.T. Dapawawa – 36,25. (5) Maria R. Malo – 36,10. (6) Marce R.P. Rauna 36,00. (7) Dritania A.R. Wasak – 35,85. (8) Urbanus Umbu Katanga – 35,75. (9) Frederingko U. Mahemba – 35,10. (10) Saxni Wonga – 34,90.

9 urutan terbesar dilihat dari Nilai tertinggi per mata pelajaran: (1) Frederingko U. Mahemba – Bahasa Indonesia – 7,60. (2) Frederingko U. Mahemba – Matematika – 5,00. (3) Dritania A.R. Wasak – Fisika -6,80. (4) Damaris R.P. Dairu – Kimia – 6,50. (5) Dritania A.R. Wasak – Biologi – 7,00. (6) Yusak B. Lero – Ekonomi – 6,75. (7) Asima Landukara – Sosiologi -7,25. (8) Asima Landukara – Sosiologi – 7,25. (9) Barnabas U.B – Geografi – 7,00.

Selain prestasi tingkat kelulusan terbaik ke dua se-NTT, SMA Kristen Anakalang juga mencatat beberapa prestasi lain seperti: (1) keikutsertaan dalam Olimpiade Sains Nasional tingkat Provinsi yang mewakilkan 3 siswanya yaitu: Ratnawati Seri Jala – matapelaran KIMIA, Ana R. Padu Djabu – Fisika dan Sisilia Podu Passi – Biologi. (2) pada tanggal 13-16 Mei menjadi juara 7 lomba paduan suara tingkat provinsi di Kupang yang mana pesertanya berasal dari 20 kabupaten kota se-NTT. (3) keikutsertaan dalam porseni tingkat Provinsi yang dilaksanakan pada tanggal 21-26 Juli 2008, mempertandingkan 4 cabang: atletik, tenis meja, badminton dan catur. (4) keikutsertaan 4 siswa pramuka ke Cibubur. (5) mengirimkan 2 utusan paskibraka tingkat Provinsi.

Saat ditanya akan dikemanakan anak didik berprestasi yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi? Dengan menarik nafas panjang pak Sam menjelaskan, hal itu yang masih menjadi misteri bagi dirinya dan teman-teman guru, karena sejak tanggal 26 April 2008 dia telah mengajukan permohonan beasiswa untuk siswa tak mampu sebanyak 20 orang ke PEMDA, namun sampai saat ini masih belum ada jawaban.

Prestasi gemilang perlu ditingkatkan, namun perhatian terhadap prestasi tidak serta-merta hilang atas prestasi yang diperoleh! (Dee Rambu Vara)

Bincang Bersama KPUD

WAIBAKUL, (Talora) – Sambutan dan senyuman, hangat menyambut kedatangan wartawan Talora dalam usaha mencari informasi tentang KPU, di ruang kesekretariatn KPUD ST – kantor kecamatan Sumba Tengah. Di tengah kesibukan penyusunan laporan proses PILGUB yang dilaksanakan di Sumba Tengah pada tanggal 14 Juni 2008, Ketua KPUD Nehemia Katu masih dapat menyisihkan sebagian waktunya untuk berbincang-bincang bersama Talora.

Setelah perkenalan-perkenalan, kami pun mulai mengungkapkan maksud dan tujuan untuk mendapatkan informasi kegiatan serta aktivitas KPUD. Dengan senang hati ia pun menyambut baik dengan memberikan beberapa informasi seputaran aktivitas KPUD.

Bapak 4 orang anak ini dipilih sebagai Ketua KPUD untuk 3 kabupaten, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Selama ini ia dibantu oleh 4 orang anggota yaitu: Jeffry A. Galla, Johanis Bili Kii, Retno Wulandari Batara Goa dan Tony Umbu Sunga.

Dalam seminggu ia menjadwalkan kehadirannya 2 hari di tiap kabupaten. Saat di tanya alasan kenapa hanya 2 hari dalam seminggu ? Ia menjawab, terkhusus di Sumba Tengah sebenarnya belum terbentuk KPU namun demikian telah dibentuk kesektariatan. Alasannya seperti yang tercantum dalam UU No. 6 pasal 137 ayat 1, 2. “sebenarnya sudah terbentuk akan tetapi karena kesibukkan pelaksanaan PILGUB akhirnya sampai dengan saat ini belum terbentuk” tambahnya. Walaupun demikian di Kabupaten Sumba tengah sudah terbentuk kesektariatan yang bertempat di kantor camat Sumba Tengah dengan pengorganisasian: sekretaris 1 orang dan kasubbag 2 orang. Namun sebenarnya untuk saat ini masih dibutuhkan lagi 2 orang. Menurutnya, minimnya sumber daya manusia di ST yang berkompeten di bidang ini cukup menghambat gerak laju KPUD. Tapi mudah-mudahan dalam jangka waktu yang diberikan kami mendapat tenaga-tenaga baru tutur Nehemia Katu.

Langkah awal yang diambil KPU selama terbentuk adalah perekrutan personil KPU dan rapat koordinasi dalam pelaksanaan tugas pemilu Gubernur dan Bupati. Rapat koordinasi dilakukan sesuai kebutuhan dan rapat ini dilakukan bersama dewan pimpinan dalam MusPiDa.

Dalam kesempatan yang sama Nehemia Katu mengungkapkan bahwa saat ini KPUD sedang melaksanakan agenda verifikasi partai politik. Menurut data yang diperoleh, diketahui dari 35 partai politik peserta Pemilu 2004, di Kabupaten Sumba Tengah terdaftar 16 partai politik. Hal-hal yang di verifikasi pada setiap partai politik adalah: kantor, fasilitas kantor, adminstrasi, kepengurusan, anggota dan kartu anggota.

Dengan berakhirnya agenda pemilihan Gubernur NTT, KPUD memasuki babak agenda baru untuk melaksanakan pemilihan Bupati. Langkah yang sedang ditempuh KPUD saat ini adalah pemutahiran data pemilu yang lalu. Hal ini sangat dibutuhkan karena berdasarkan pengalaman dalam pilgub, terdapat data-data yang tidak sesuai dengan yang ada di lapangan. Banyak pelajaran yang diperoleh dari berbagai kendala pemilihan Gubernur yang telah dilaksanakan, salah satunya adalah menurunnya partisipasi politik masyarakat saat Pilkada. Hal ini dikarenakan tidak dimilikinya kartu pemilih oleh masyarakat.

Dalam menjalankan tugasnya, KPUD menggunakan dana yang murni berasal dari pemerintah dengan pembagian dana, Kabupaten Sumba Tengah Rp. 1,6 M; Sumba Barat Daya Rp. 3,6 M dan dana pemilihan Bupati sebesar Rp. 10M.

Merupakan suatu tanggungjawab besar untuk menjadi ketua KPUD bagi tiga Kabupten secara bersamaan, tambahnya. Namun atas semua kenyataan yang ada, itu semuanya perlu syukuri, atas keyakinan terhadap penyertaan sang Kuasa. (Umbu Djanga Sabakodi)