“Pendidikan + IT”, Seberapa Penting IT di NTT

ferdi.gifFerdinand U.R. Anaboeni – Kecenderungan penggunaan akses pencarian Informasi yang berbasis Teknologi Informasi ( TI ) dan Internet (International Network) sudah sangat sering kita dengar saat ini. Surat kabar dan majalah dipenuhi dengan cerita sukes dan gagal dari individu atau perusahaan yang merangkul IT dan Internet. Disisni saya akan sedikit mengulas implikasi IT terhadap bidang Pendidikan, khususnya pendidikan di daerah NTT.

Nusa Tenggara Timur, yang pada zaman kekuasaan Belanda merupakan bagian dari Sunda kecil, merupakan sebuah propinsi kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Kemiskinan serta keterbelakangan begitu terasa di segala aspek kehidupan masyarakatnya. Pendidikan yang seharusnya terjamah dan menjamah masyarakat disana, malah terasa semakin menjauh dan jauh dari harapan para pembuat UUD 45, khususnya yang tersirat pada pasal 31.

Teknologi informasi sebagai sebuah teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan dan mamanipulasi data, dalam prakteknya sebebenarnya dapat digunakan secara tepat guna dalam mendukung perkembangan pendidikan di NTT yang notabenenya masih terbelakang. Teknologi yang dimaksud, menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi ini digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Dalam hal ini Teknologi Internet, international Network sebagai sarana IT yang paling mudah dipakai untuk menunjang pendidikan di NTT.

Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan sebagai salah satu akses dan sarana penunjang pendidikan, merupakan sumber informasi yang mahal harganya.

Ada berapa banyak perpustakan di NTT? Bagaimana kualitas buku-buku yang tersedia disana?

Adanya Internet memungkinkan seseorang di NTT untuk mengakses perpustakaan di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung bahkan Amerika Serikat dan negara-negara lain di seluruh dunia. Cukup dengan sekali ‘click’, beragam infomasi dapat kita akses dan peroleh.

Bayangkan apabila seorang mahasiswa di kepulauan NTT dapat berdiskusi masalah ilmu kedokteran dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa melalui sebuah situs web. Mahasiswa dimanapun di NTT dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. “Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi”.

Secara pribadi saya (penulis, Red) telah mengenal Nusa Tenggara Timur sejak usia 5 tahun. Pendidikan yang berjalan disana dirasa terlalu monoton. Akses informasi pendidikan begitu terbatas pada tatap muka di kelas. Kualitas guru dalam penyampaian ilmu dirasa sangat kurang. Setelah saya melanjutkan studi di Universitas Kristen Satya Wacana – Salatiga, saya begitu terpukau dengan perbedaan yang terjadi diantara mahasiswa asal daerah Indonesia Timur dan mahasiswa asal daerah Indonesia barat, terkhusus dari pulau Jawa. Pemahaman akan mata kuliah yang diterima dapat dengan cepat mereka serap.

Mengapa bisa seperti itu ? Apa yang begitu membedakan di antara kami, padahal ilmu yang kami terima sama saja bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi, maka saat ini sangat dimungkinkan untuk mengakses informasi dalam bentuk apapun melalui Internet, oleh karena itu pengenalan IT sejak usia dini dirasa sangat perlu untuk menambah database keilmuan yang dimiliki oleh para siswa serta guru dan pengajar, tentunya tidak hanya terbatas pada tatap muka dikelas saja. Kita harus belajar dari kemajuan daerah lain di Indonesia yang telah sukses dalam menerapkan IT disegala bidang kehidupan, pendidikan juga termaksud. Ketersediaan sarana IT di wilayah Indonesia bagian barat berkembang dengan sangat cepat Pemerintah dalam hal ini PEMDA NTT, sekolah serta masyarakat bisnis IT diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam perkembangan IT di NTT sebagai sarana penunjang perkembangan pendidikan yang berkualitas dan dapat bersaing di era Globalisasi ini.

Saat ini pula, dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa/siswa dengan dosen/guru/pengajar, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Salah satu manfaaat utama dari pembelajaran jarak jauh adalah dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh banyak orang. Coba bayangkan, jika pendidikan hanya dilakukan di kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut dalam 1 kelas? Jumlah pesertanya tentu hanya dapat diisi ± 50 orang saja. Pembelajaran jarak jauh (Distance Learning) dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja.

Kebekuan yang terlampau lama akan kebutuhan informasi dari masyarakat NTT sudah saatnya dicairkan, kegelapan yang selama ini menyelimuti dunia pendidikan di NTT sudah selayaknyalah diterangi dengan secercah cahaya. Memaksimalkan penggunaan Teknologi secara tepat guna dalam bidang pendidikan di NTT harus dimulai dari sekarang. Disini penulis hanya dapat menghimbau “mari bersama, semua elemen penopang pendidikan, bangkit dan bersatu demi masa depan generasi-generasi penerus daerah, anak cucu kita tercinta serta kejayaan pendidikan di NTT”.

18 Komentar

  1. Nusa Tenggara Timur sudah selayaknya memajukan masyarakatnya dengan berorientasi pada pengembangan Teknologi Informasi.

    Bila ditilik, pembiayaan sarana prasarananya memang tergolong muuuahal (seluruh NTT), tapi hal tersebut dapat menjadi investasi buuuuuuuesar di masa yang akan datang.

    Bagaimana menurut kalian ? silahkan kirim komennya yach. Ths and GBU

  2. setelah saya memebaca tulisan anda awalnya saya terkesan. Dengan melihat masa depan lewat penyediaan sarana IT di NNT pada umumya.Tetapi setelah amati beberapa kali tulisan anda, kesalahan dasarnya bukan terletak pada tidak adanya rana IT, tetapi penguna (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan sarana itu tidak ada. Ambil contol NTT jumlah lulusannya banyak tetapi lulusan TI sedikit bahkan boleh saya katakan tidak ada. Contoh nyata ke2,2004 salah satu SMP di kabupaten sumba barat daya, SMP tersebut membeli komputer dari dana BOS 50 unit, setelah komputer itu ada dibiarkan begitu saja, malah yang manfaatkan orang-orang dari kedinasan/instansi lain yang mengerti tentang komputer(banter-banter satu-tiga orang saja). Bahkan, begitu kena virus dibiarkan begitu saja tunggu ahli dari jawa, dan anak sokolah yang sebenarnya mempunyai fungsi diadakan barang ini hanya mengaga (blongo) tidak tau cara operasinya. saya sarankan, NTT kita ini kaya kalau untuk menyediakan sarana ini saya rasa NTT bisa. Tapi kita harus siapkan dulu SDMnya yang sesuai dengan kebutuhan. Agar barang-barang yang dipakai didak hanya menjadi besi karatan dikantor karena tidak ada yang tau cara mengoperasikan.

  3. Yach memang benar apa yang dikatakan saudara Hans Mesa, sarana dan prasarana akan menjadi usang bila tidak ditopang dengan Sumber Daya Manusia yang ada.

    Disini penulis berharap, agar para pengambil keputusan ditingkatan pemerintah dapat menyeimbangkan hal tersbut.

    Penjelasan mengenai sarana dan prasarana (keuntungannya) disini bagi penulis akan menjadi stimulus bagi *mereka agar mereka tanggap dan sesegera mungkin mempersiapkan segala kebutuhan dari penggunaan teknologi tersbut, termasuk SDM-nya. *Pemerintah.

    Kita sebagai mahasiswa yang sering disebut sebagai kaum intelek, sudah selayaknya mau dan tanggap untuk terus menyuarakan aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang mana kebutuhan tersebut terus berpacu dalam gelombang globalisasi ini.

    Tuhan Memberkati kita semua.

  4. Fer, bikin proposal pelatihan ke Pemda Sumba Tengah aja. Biar nanti kita-kita yang mahasiswa ini kasih pelatihan SDM di sana soal komputer dan internet (TI). Mampu kan?🙂

  5. To FRD. Foto anda paling besarnya di latolara n jelas lagi, yang lain pasti iri karena sudah kecil tidak jelas lagi.

  6. To Hans Mesa : SUdah tak rubah boss, tenang aja gak ada yang bakalan iri kok. Kita orang ganteng sich Hahahahahahaha. . . . . . .

  7. jangan lupa orang ganteng satu juga di muat fotonya (maksudnya ane)heeeee…….

    ambil di Friendster (hans_mesa85@yahoo.com)

    masa ganteng nongol dewe?

  8. He.he.he…
    Sory OOT (Out Of Topic),
    Untuk Hans Messa : Tidak perlu lagi lah fotomu terpampang disini, semua juga sudah tahu kalau anda itu sudah guanteng banget. . . Sampai terkenal di segala penjuru dunia, alam semesta dan juga alam gaib🙂

  9. bilang sa kalau kalah ganteng nanti.heeeeeee

  10. Sory lagi kalau OOT :
    For hans : Ya sudah saya mengalah saja lah. Sampeyan yang paling guanteng sedunia dan sedunia akherat lah….

    Fokus lah, kita obrolkan tentang “Pendidikan + IT”..

    Oke Bro . . .

  11. wah anda suda berubag yah…

    dari tulisan anda saya hanya suka kata2 penutup anda. saya rasa suruan moral yang posif sekali. terus lah berkarya bos….

  12. Sdr Ferdi. ah itu diatas hanya sekedar basa-basi.
    KALAU MENGENAI TULISAN ANDA SAYA SEPAT MEMBERI KOMENT WAKTU ITU.
    @TAPI TDAK ADA SALAHNYA SAYA MENAMBAH COMNET LAGI.
    @SEPERTI YANG SUDAH2 BAHWA TEKNOLOGI HANYA SEBAGAI BATU LONCATAN UNTUK MENUJU PERKEMBANGAN ZAMAN YANG SERBA MODERN. YANG MENJADI KENDALA KITA ADALAH SDM YANG BELUM MEMADAI.
    @SAYA TERHIPNOTIS DENGAN KATA2 PENUTUP ANDA MENGAITKAN TERANG/GELAP DENGAN TEKNOLOGI. SAYA BERHARAP TIDAK HANYA SAYA SAJA YANG TERHIPNOTIS TAPI PERHATIAN LEBIH BESAR KIRANYA DARI PEMERINTAH/PEMDA KITA.

  13. sdr Ferdi: bagaimana tanggapan sdr dengan pilgub NTT kali tahun ini. apakah ada program/visi/misi mereka yang sama dengan harapan dalam tulisan sdr?

    saya tdak begitu beharap dengan 5 calon pilgub NTT tahun ini, apa lagi dari ke lima calon tersebut merupakan wajah2 lama yang selama ini berkecimpung dalam pemerintah/daerah tapi tidak ada hasilnya.

    bagaimana dengan sdr?

  14. To Ferdi: Tulisan anda sudah pernah saya coment sebelumnya.
    tapi tidak ada salahnya kita bahas lagi.
    @ pendapat ada mengenai coment saya dulu sudah memberikan titik terang dari tulisan saudara.
    @kata2 penutup dari tulisan sdr yang memformulasikan antara gelap/terang dan TI sangat menghipnotis saya.
    @saya berharap saja pemerintah NTT mendapat pencerahan dari tulisan anda

  15. for Ferdi:tidak lama lagi NTT akan memilih Gubernur baru.
    @dari kelima calon yang saya baca lwt ntt_online memuat nama yang tidak asing lagi buat masyarakat kita. apalagi wajah2lama masih bertengger memposisiskan diri dalam colon Gubernur.
    @ada yang menjanggal di benak saya. mengenai beberapa calon yang sudah berkiprah lama di pemerintahan (baik DPR, DPRD,atau proVinsi) yang tidak ada hasil selama mereka menjabat. yang kedua: ketidak efisiensi pencalonan yang banyak membuat masyarakat bingung untuk memilih dan juga membuat masyarakat ntt bekotak-kotak karena dukungan meraka, ketiga: program dan visi/misi yang tidak spesifik dari setiap colan,artinya banyak program dan visi/msi yang sama.
    bagaimana menurut sdr?

  16. To Ferdi. pak Rudi mau ada kirim coment tapi tidak masuk.

  17. aku salut sama kmu fer…

    chayooooo….

  18. Sori baru sempat ak baca…

    To Hans: Mungkin agak terlambat komentar saya ini, tapi yang pasti, secara pribadi saya tidak dpt mengatakan sudah atau belumnya cita-cita dalam tulisan ini terjawab lewat visi misi gubernur terpilih kita saat ini, krn memang saya belum pernah mendengar atw membaca visi-misi dia selama masa kampanye kemarin. Harapannya, Gubernur terpilih kita turut memperhatikan pengembangan IT dengan alokasi dana secukupnya (kita tidak dapat paksakan lebih bila dana yg ada memang kecil).

    Sebagai contoh, Terkhusus untuk kota Kupang, saya sudah melihat adanya perkembangan akses IT disana, ditandai dengan semakin maraknya warnet-warnet. Bahkan terakhir, saya mendapat informasi bahwa UNDANA (univ. nusa cendana) akan mengembangkan koneksi jaringan berbasis internet dan intranet. Harapannya tentu saja bukan hanya di kota Kupang semata. Biarlah kota kupang menjadi motor penggerak bagi daerah lain di wil NTT untuk sesegera mungkin mengembangkan perangkat Teknologi Informasinya.

    Mengenai SDM, saya melihat SDM yang ada saat ini terkhusus wilayah Sumba Tengah sudah mulai bertumbuh layaknya tunas yang akan terus berkembang menjadi pohon yang kuat serta kokoh, hal ini ditandai dengan semakain banyaknya calon serta mahasiswa yang mengambil jurusan IT. MODAL AWAL pengembangan IT donk🙂

    BERSAMBUNG . . . . . .


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s