AKU TAK MAU KEMBALI

Terintis perjalanan yang begitu jauh

Walau keluh kesah, peluh keringat dan air mata

Rumput tetap saja bergoyang, melambai, mengangguk

Menggerakkan tiap tapak kaki, tak gentar terus maju

Tuk terintis jalan, demi tapak-tapak kaki berikutnya

Menuju mata air kehidupan

Sungguh…

Sungguh alam yang begitu unik

Onak dan duri di mana-mana

Menghancurkan semangat perjalanan

Melumpuhkan setiap tapak kaki yang melangkah

Menutup jalan menuju mata air kehidupan

Enggan berbagi kemakmuran

Mentari kan bersinar lagi, angin terus berhembus

Menggerakkan rerumputan yang basah

Membasuh kaki yang melangkah tegar

Onak dan duri tak berdaya, terhempas derap kaki

Terhenyak menyaksikan gegap gempitanya langkah

Makin jauh, mendekati mata air kehidupan

Mata air kehidupan yang begitu nyata

Memberikan kemakmuran bagi alam sekitarnya

Rumput hijau terhampar luas

Bahkan onak dan duri pun tersenyum dengan bunganya

Hidup bahagia, penuh kemakmuran

Sungguh kehidupan yang sangat indah

Aku tak mau kembali

pb260205.jpg
By : yarif
Iklan

Drs. Umbu Dedu Ngara

img_4786.jpgFerdinand U.R. Anaboeni – Drs. Umbu Dedu Ngara, sosok salah satu pemimpin daerah yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD Sumba Tengah. Terlahir di Lawonda – Sumba Tengah pada tanggal 25 maret 1941, memiliki seorang istri bernama lengkap Rambu K. Riwa dan telah dikaruniawi 3 orang anak.. Pria paruh baya ini memiliki sejarah pendidikan, SR wairasa sumba barat, SMP Kr. Waikabubak, SMA Solo jurusan ilmu pasti, serta sarjana ekonomi fakultas ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana. Semasa kuliah, Umbu Dedu Ngara aktif dalam berbagai organisasi intra serta extra kampus. Dia pernah menjabat sebagai wakil ketua dewan mahasiswa UKSW periode 1968 – 1969, wakil ketua GMKI cabang salatiga periode 1968-1971, ketua GAMKI cabang salatiga 1968-1971 serta ketua umum Lembaga Pengabdian Mahasiswa Se-Jawa Tengah 1972-1973. Setelah lulus pun keterlibatan ke berbagai organisasi masyarakat tetap dijalaninya, Ketua Pusat Koperasi Induk (PUSKUD) NTT periode 1983-1994, Wakil ketua kamar dagang daerah(KADINDA) tkt propinsi NTT tahun 1988-1992, wakil ketua Perhimpunan Pedagang dan Peternak Hewan Indonesia tkt propinsi tahun 1983-1984 serta ketua kaum Bapak di Majelis Gereja HOREB Perumnas Kupang.

Ramah serta penuh senyum adalah sifat yang ada pada diri Umbu Dedu Ngara. Keramahan itulah yang terasa ketika tim redaksi berkunjung ke rumah beliau untuk melakukan wawancara, sambutan hangat begitu terasa selama wawancara berlangsung.

Pria yang dulunya menjabat ketua komisi B DPRD Sumba Barat ini bertutur, ada 2 tantangan besar yang harus dihadapi oleh kabupaten sumba tengah saat ini. Pertama, kemiskinan serta pemiskinan. Dalam penjelasannya, yang dimaksud dengan kemiskinan adalah sebuah proses alamiah dimana rakyat tidak memiliki sawah, tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup serta miskin akan akses informasi. Miskin akses informasi inilah yang akan menimbulkan apa yang beliau sebut ‘hakekat pembodohan’. Dalam hal ini, bukan hanya rakyat saja yang miskin akan akses informasi, dewan serta pemerintah pun mengalami hal yang sama. Oleh karena itu yang penting dilakukan agar tidak miskin informasi, informasi yang disampaikan harus benar dan dapat menyentuh segala kalangan masyarakat. Sedangkan pemiskinan yang dimaksud berasal dari faktor budaya dan aturan pemerintah. Dari segi budaya, pemiskinan terjadi dikarenakan kegiatan-kegiatan adat yang membutuhkan sejumlah hewan serta tumpang tindih aturan adat, sebagai contoh, penggadaian sawah untuk membeli sejumlah hewan. Pemerintah sebagai pembuat aturan ternyata belum betul-betul mampu untuk mengatasi kemiskinan, aturan yang dibuat oleh dirasa masih saling tumpang tindih yang menyebabkan kebingungan dikalangan masyarakat. Tantangan kedua, penggabungan kembali ke kabupaten induk. Jika penggabungan kembali Sumba Tengah ke kabupaten induk didasari oleh kepentingan politik, maka penderitaan terbesar akan dialami oleh rakyat.

Umbu Dedu Ngara mengatakan bahwa pilar-pilar pembangunan di Sumba Tengah terdiri dari 3 bagian besar, pemerintah, masyarakat serta pengusaha. Secara khusus pada dunia usaha, beliau berpendapat bahwa masyarakat bersama pemerintah diharapkan mampu membangun dunia usaha baru. Pemerintah kedepan harus dapat menciptakan informasi bisnis dan dapat menjadi fasilitator terciptanya dunia usaha baru di Sumba Tengah. Intinya adalah masyarakat sumba tengah harus bisa untuk mandiri yaitu dengan cara membuka jaringan usaha dan memelihara jaringan system yang telah ada agar tidak terjadi konflik antara manusia dengan alam. Dalam pilar sumba tengah faktor manusia (masyarakat) dapat dilihat dari segi ekomoni keluarga, pendidikan keluarga, dan kesehatan.

Pertanyaan lain mengenai pengamodasian CPNS yang seyogyanya harus putra-putri asli daerah dijawab oleh mantan staf pegajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana ini dengan jawaban “ kita harus memahami persoalan yang ada, dengan cara mengingat kembali konsep dasar pemekaran kabupaten Sumba Tengah”. Konsep dasar pemekaran kabupaten Sumba Tengah yaitu Pertama, masyarakat yang tidak mempunyai daya beli di karenakan banyak masyarakat sumba tengah yang tidak memiliki pekerjaan (menganggur). Kedua, masalah pembangunan karena banyaknya pengangguran. Ketiga, masalah jumlah penduduk yang mencapai angka 65.000 jiwa. Keempat, ingin mensejahterakan masyarakat Sumba Tengah. Menurut beliau karena begitu banyak putra-putri daerah yang menganggur, maka mereka harus menjadi prioritaskan utama. Alasannya adalah orang-orang dari luar daerah hanya sebatas mengetahui sedangkan orang-orang asli daerah sudah mengetahui masalah yang ada hanya tinggal butuh adaptasi saja. Namun kelemahan yang ada adalah ketika orang dalam daerah tidak mampu maka diambillah orang diluar daerah yang lebih berkompetensi untuk mengisi kekosongan yang ada. Cara untuk mengatasi kelemahan tersebut yaitu dengan pengadaan beasiswa untuk semua cabang ilmu. Selain itu juga perlu diadakan pelaihan-pelatihan guna peningkatan mutu sumberdaya manusia yang dimilki daerah.

Ketika ditanya mengenai sosok pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh kabupaten Sumba Tengah saat ini? Umbu Dedu Ngara berpendapat, kabupaten sumba tengah saat ini membutuhkan pemimpin yang jujur dan sederhana. Pemimpin yang sekaligus dapat menjadi manajer, artinya tidak hanya dapat bernuansa politik yang konseptor tetapi juga mampu mengoperasionalkan sesuatu yang sudah terencana dengan banyak pertimbangan. Pemimpin Sumba Tengah diharapkan untuk bisa tegas dan to the point (langsung pada sasaran). Selain itu juga pemimpin Sumba Tengah harus mampu menjalankan mekanisme politik dengan baik. Mekanisme politik yang baik harus dimulai dari bawah (masyarakat) dan harus sampai keatas (bottom up).

Dilihat dari pengalaman organisasi dan riwayat pekerjaan yang telah diemban, sudah tidak diragukan lagi bahwa Drs Umbu Dedu Ngara bukan sosok yang biasa-biasa saja. Semoga kiprah beliau sebagai ketua DPRD Sumba Tengah mampu menjawab aspirasi seluruh masyarakat Sumba Tengah.

Agustinus Umbu Rauta: KRUSIAL, PEMIMPIN PERTAMA KABUPATEN SUMBA TENGAH

Robertus Umbu Tayi – Banyak orang berkomentar seputar masa depan Sumba Tengah. Tidak sedikit yang pesimis. Banyak juga yang tetap berpikir positif. Sumba Tengah lahir dari pemikiran yang positif, dari harapan dan kepercayaan yang tidak pernah luntur. Pada masa-masa persiapan untuk memilih Kepala Daerah yang defenitif saat ini,banyak wacana yang bergulir di masyarakat. Pemimpin pertama ini sangat krusial oleh karena mengemban tugas untuk tetap menahan Sumba Tengah pada Trek nya sekarang atau kembali bergabung dengan kabupaten induk karena dianggap tidak dapat berkembang. Pemimpin seperti apa yang paling dibutuhkan Sumba Tengah saat ini? Tim redaksi Ujas, Ade dan Roby telah mewawancarai Drs Agustinus Umbu Rauta di rumahnya di bawah kaki gunung Tadula Dewa Desa Anajiaka.Seorang tokoh senior, yang dulunya banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan sehingga terungkap pula beberapa persoalan pendidikan yang perlu mendapat perhatian.

Bagaimana komentar bapak tetang Sumba Tengah yang telah menjadi Kabupaten…
Hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur. Ini adalah sebuah berkat yang sangat besar bagi masyarakat Sumba Tengah. Keputusan yang ditunggu dengan penuh harapan akhirnya datang. Syukur bahwa upaya peningkatan kesejahteraan semakin mendekat kepada kehidupan masyarakat yang selama ini sepertinya hanya sebuah impian. Kita punya harapan hidup yang lebih baik semakin besar sekarang dan akan datang dalam waktu yang relatif singkat ke depannya.

Dari awal perjuagan hingga sekarangpun, orang selalu mebandingkan 2 kabupaten baru yang baru lahir, dan orang selalu mengaggap remeh Sumba Tengah untuk dapat maju cepat…
Undang-undang pembentukkan kabupaten baru mensyaratkan PAD yang cukup tinggi. Di sini sebenarnya tersirat prasyarat kemiskinan. Justru karena Sumba Tengah miskin makanya harus dimekarkan. Kalau saja Sumba Tengah tidak menjadi kabupaten maka akan tertinggal puluhan tahun lagi. Saya pikir orang-orang di pusat melihat bahwa kalau Sumba Tengah tidak dibantu maka akan semakin tertinggal. Menyangkut Sumba Barat Daya, kalau Sumba Barat Daya sudah makmur untuk apa lagi mekar? Sebaiknya kita berhenti sudah membanding-bandingkan apa yang tidak perlu. Mari kita berkonsentrasi pada apa yang kita miliki untuk kita kelola menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita. Kalau ada yang perlu kita sinergikan itu kan malah sangat baik.

Apa yang kita punya sebagai modal untuk mejalankan kabupaten ini?
Sekali lagi terlalu naif untuk mengatakan bahwa Sumba Tengah tidak punya apa-apa.Saya cukup mengikuti sejarah pembentukkan pemerintahan di pulau Sumba ini. Pada tahun 1958 pulau Sumba yang mejadi 1 unit pemerintahan tersendiri dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Sumba Barat dan Sumba Timur. Sumba Barat di pimpin oleh raja Loura yaitu Lede Kalumbang sebagai kepala pemerintahan sementara. Apa yang Sumba Barat punya waktu itu untuk hidup sebagai sebuah kabupaten? Jalan belum ada yang diaspal. Tidak ada satupun kendaraan. Kota Waikabubak itu panjangnya cuma 500 meter. Coba bandingkan dengan apa yang sudah ada di sumba Tengah sekarang ini untuk memulai diri mejadi kabupaten. Jalan mulus serta kendaraan banyak. Banyak yang kita bisa miliki untuk berhasil, jadi jangan dulu kita katakan Sumba Tengah tidak punya apa-apa kalau hanya melihat dengan kasat mata. Lahan bersama manusianya saja sudah cukup bagi kita untuk meretas hidup yang lebih baik.

Yang tidak kasat mata yang ada pada masyarakat, modal sosial apa yang kita punyai?
Ada buku baru yang terbit ditulis oleh Pak Hugo Kalembu. Isinya ada tentang sepintas perjalanan perjuangan pemekaran 2 kabupaten di Sumba. Dia mengakui bahwa hawa perjuangan yang sebenarnya ada di Sumba Tengah. Hal ini kiranya menjadi gambaran bahwa kita masyarakat pejuang. Kita punya semangat untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik. Kalau kita tidak punya semangat dan daya juang, kita sudah mundur mendengar cemohan orang tentang ketidaklayakan kita menjadi daerah otonom baru. Gambaran kebersamaan, semangat dan daya juang kita bisa juga kita lihat dalam cara kita bekerja. Cara kita menarik batu kubur, menarik tiang, menanam padi. Kita selalu melakukannya secara bersama-sama dalam kegembiraan dengan nyanyian-nyanyian. Atau bahkan orang menyayi bersama kalau sedang mengendarai kuda memuat hasil dari sawah. Itu adalah modal utama kita untuk mengolah alam kita yang dinilai kurang menghasilkan. Selanjutnya kita butuh orang yang tepat yang berdiri diatas batu agar masyarakat kita benar-benar mejadi satu komando satu tujuan.

Dengan realitas masyarakat Sumba Tengah yang demikian, di masa bayi ini Sumba Tengah membutuhkan pemimpin yang seperti apa?
Nah itulah yang saya bilang butuh orang yang tepat untuk berdiri di atas batu tadi. Yang terutama adalah dikenal dan mengenal rakyatnya, dicintai dan mencintai rakyat. Masyarakat mengenalnya dari kehidupan sehari-harinya, cara dia hidup, cara dia berhubungan dengan orang lain. Bagaimana kepekaan dan keprihatinannya dengan orang lain. Perhatian yang ditunjukkan dengan mengunjungi para pencuri di tahanan, yang mengunjungi orang sakit, yang mencintai rakyatnya dengan berlaku kudus dan jujur. Tidak menipu dan memakan uang rakyat, yang tahu dan mengenal dengan baik kehidupan masyarakat Sumba Tengah yang masih susah dan hidup dari sawah dan kebun. Dengan begitu kita berharap orang yang tahu berkebun dan bersawah. Bukan apa-apa dua tempat ini terlalu penting untuk masyarakat kita. Mengenal masyarakat juga berarti mengenal dengan baik adat istiadatnya terlibat aktif dalam acara-acara adat. Mengenal rakyat juga berarti tahu dan mengenal alamnya selain mengetahui manusianya. Menguasai wilayah ini sehingga tidak memerlukan waktu banyak lagi untuk orientasi pelaksanaan program. Selain itu juga membutuhkan orang yang berpengalaman di pemerintahan. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan karier dan track record nya selama ini. Hal ini penting, karena untuk efisiensi dan keefektifan pelaksaaan pemerintahan mengingat Sumba Tengah butuh akselarasi yang lebih. pengalaman kepamongprajaan, pengalaman lapangan. Jangan orang yang selama ini hanya mengatur dari kantor saja. Sumba Tengah sangat membutuhkan investor. Jadi sebaiknya pemimpin yang akan segera kita pilih punya modal jaringan yang kuat dalam hal ini, paling konkrit orang tahu Jakarta lah….yang tahu jalur-jalur yang baik dan benar untuk dapat mendatangkan investor ke Sumba Tengah. Pengenalan akan manusia dan alam Sumba Tengah adalah modal yang sangat berarti untuk menyusun strategi yang paling cocok agar pelaksanaan program pembangunan tepat guna dan tepat sasaran.

Dari sudut pandang budaya, kepemimpinan seperti apa yang bisa direkomendasikan?
KeUmbuan dan Kebangsawanan yang masih kelihatan dalam masyarakat ini, itulah yang bisa kita jadikan cermin kepemimpinan. Keumbuan dan kebangsawanan adalah sebuah tanggungjawab besar. Kalau di kampung dapat dibilang sebagai ina ama ta paraingu. Maramba mempunyai arti melindungi, mengayomi rakyat dalam kampung. Kalau ada satu masalah dalam kampung maramba pasti terlibat dalam penyelesaiannya. Kalau satu rumah tidak bunyi lesungnya maka atas inisiatif maramba padi akan dikirim ke rumah tersebut. Setiap acara adat baik kematian maupun perkawinan maramba selalu memainkan peran sentral. Saya punya pengalaman saat saya dianiaya marinir beberapa tahun yang lalu. Seorang yang saya anggap pembesar di Sumba Barat dengan serta merta datang memberi saya sebatang parang dan berkata: “mari kita selesaikan masalah ini apa pun caranya…” Dalam sudut pandang budaya, orang seperti ini yang secara subjektif saya anggap maramba. Atau kembali dalam metafora menarik batu, kita butuh pemimpin yang menjadi motivator ulung yang pada saat bernyanyi dan saat dia berteriak ya waa! Segenap rakyat akan menjawabnya gauwa! Motivator yang mengerti pola pikir masyarakat Sumba Tengah. Kita ini pintar kahoha atau merayu namun mudah juga untuk dikahoha atau di rayu.

Bapak berkecimpung cukup lama dalam dunia pendidikan. Apa yang ingin bapak sampaikan?
Semua orang tahu pendidikan sangat penting. Membangun pendidikan sama dengan membangun peradaban. Namun seperti yang kita alami bersama pendidikan masih morat marit. Berbicara tentang pendidikan di Sumba Tengah tidak lepas juga dari sistem pendidikan yang lebih besar, dan kenyataannya persoalan pendidikan terlalu kompleks. Oleh karena itu dengan adanya Kabupaten Sumba Tengah apa lagi dalam era otonomi daerah ini kita dapat lebih fokus untuk melihat persoalan pendidikan kita. Di tingkatan praktisi, salah satunya mempersoalkan pendidikan di Sumba Tengah adalah keterpencaran penduduk. Sumba Tengah sangat luas. Pola-pola pemukiman tradisional yang berjauhan antara satu dengan yang lain adalah tantangan tersendiri. Untuk pemerataan pendidikan pemerintah harus membangun lebih banyak SD mini. Biar 10 murid saja yang penting ada gurunya. Misalnya 1 desa luasnya 50 km2 dan hanya tersedia 1 SD kita harus perhitungkan kekuatan berjalan anak. Misalnya jarak sekolah ke rumah 4 km dengan medan yang sulit maka dalam satu hari si anak yang baru kelas 1 atau kelas 2 berjalan 8 km. Jadi SD mini ini misalnya untuk anak-anak kelas 1 sampai 3 saja dengan konsentrasi baca tulis dan hitung saja. Tidak peduli dengan tetek bengek kurikum segala. Nanti setelah itu selesai baru digabung ke SD yang lengkap. Gurunya biar tamatan SMP saja. Pemerintah bisa memfasilitasi DIKLAT khusus untuk mereka. Untuk hal ini kita sangat membutuhkan kearifan dari penguasa.

Bagaimana Tentang Kurikulum Nasioanal yang terus berubah?
Tidak usah kita dipusing dengan metode dan kurikulum yang setiap saat berubah, paling penting sekarang adalah anak kelas 1-3 bisa mebaca menulis dan menghitung. Kalau ini sudah selesai selanjutnya akan menjadi mudah. Kesalahan umum sekarang adalah karena anak kelas 4 tidak bisa membaca menulis, akibat akan terjadi saling menyalahkan di antara para guru. Kelas 4 salahkan guru kelas 3, kelas 5 salahkan guru kelas 4 dan seterusnya, sehingga guru SMP menyalahkan guru SD.

Selain CALISTUNG (membaca, menulis dan menghitung) model pendidikan praktis yang konteks dengan Sumba Tengah kira-kira apa?
Kalau pendidikan mau menghasilkan manusia yang paripurna, maka hasilnya adalah manusia yang pintar, rajin, baik dan sehat. Yang dididik adalah hati otak dan tangannya, hasilnya adalah manusia yang hidup dari keringatnya sendiri, yang tidak menindas orang lain. Untuk yang praktis dan kontekstual, Sumba Tengah ini masih tergolong desa. Akan baik kalau 1 orang anak sekolah diwajibkan memiliki 1 pohon pisang, 10 pohon mahoni dan 1 ekor ayam untuk dipelihara. Selama ini pelajaran di sekolah sangat jauh dari ligkungan, semua tentang Jawa saja malah tentang Sumba tidak ada. Kalau bisa juga sekalian diprogramkan dalam porseni untuk dipertandingkan lomba nyanyian daerah yang lama atau yang gubahan baru. Dengan demikian kita tetap hidup dalam lingkungan budaya kita serta melestarikannya. Untuk merangsang motivasi anak untuk lebih berusaha adalah dengan bentuk apresiasi terhadap prestasi mereka. Anak yang berprestasi di tingkatan kecamatan hingga nasional diarak keliling kota dan diberi hadiah yang pantas. Untuk orang-orang muda yang belum punya pekerjaan mereka dikondisikan supaya memelihara babi atau ternak yang lain sehingga kalau saatnya kawin tidak mengharapkan orang tua lagi. Mereka harus punya cangkul atau alat-alat bertani lainnya. Satu hari tidak usah terlalu banyak mencangkul cukup 2×2 meter saja. Hitung saja berapa yang sudah dicangkul selama satu bulan.

Adakah persoalan dalam dunia pendidikan yang perlu di buat menjadi PERDA?
Khusus di Sumba Tengah kita membutuhkan PERDA pendidikan yang khusus. Misalnya tentang absensi guru. Guru kita terlalu banyak urusan di luar sekolah terutama urusan adat. Waktu untuk mengajar banyak terbuang untuk urusan adat. Kalau bisa ada sanksi bagi guru-guru yang meninggalkan sekolah pada jam-jam pelajaran. Tentunya akan menjadi pertimbangan pembuat kebijakan sehingga semua menjadi sinergi. Yaa…kesemuanya itu tergantung dari kearifan pembuat kebijakan untuk melihat persoalan yang ada di Sumba Tengah. Kembali lagi semoga kita dapat memilih pemimpin yang tahu benar akan manusia dan alam Sumba Tengah dan memiliki kecerdasan untuk meramu potensi di Sumba Tengah menjadi kekuatan untuk maju.

SIAPAKAH PEMIMPIN SUMBA TENGAH KE DEPAN ?

lazarus.gifLasarus U.L. Pinyawali – Pertanyaan di atas merupakan bahan pembicaraan yang menarik dan sekaligus menegangkan seluruh masyarakat Sumba Tengah yang sedang berada dalam arak-arakan menyongsong pemilihan kepala daerah secara langsung tahun ini. Hal itu tidak saja terjadi dalam pusaran wilayah Sumba Tengah sendiri, tapi di luar daerahpun di mana komunitas masyarakat Sumba Tengah berada tema ini hangat didiskusikan. Ketika ada pertemuan dua wajah atau lebih, entah di bale-bale, sawah, kebun, kantor, kampus dan di mana saja, pertanyaan siapakah pemimpin Sumba Tengah ke depan selalu menarik untuk didiskusikan. Hampir tidak ada pembicaraan yang lewat begitu saja tanpa menyinggung Sumba Tengah. Rasanya pembicaraan itu belum lesat kalau tidak digarami dengan wacana Sumba Tengah. Orang Anakalang mengatakan: mera kagaha manaina atu napanewi, mera maha mela badiya atau orang Kupang bilang: ke karmana ko?

Bukan saja menarik tapi juga menegangkan dan mendebarkan jantung serta membuat aliran darah naik turun tak beraturan, terutama bagi mereka yang berada dalam lingkaran inti pertarungan. Bila diselidiki secara sosial mengapa demikian, maka jawabannya cukup mudah ditemukan, karena tidak seorangpun yang memegang tangan rakyat dalam menceblos dan ini menyangkut nasib dan masa depan kita bersama. Baik buruknya nasib dan masa depan kita itu, sebagian besarnya ditentukan oleh siapa pemimpinya, tanpa bermaksud mengabaikan dukungan masyarakat. Memang kita semua tahu dan sadar bahwa apa yang dilakukan oleh seorang pimpinan, semisal bupati adalah hasil kesepakatan bersama dengan segenap masyarakat melalui DPR dan jajaran birokrasi. Namun kendali tertinggi untuk mengarahkan seluruh proses dan tindakan politik atau katakanlah pembangunan agar mencapai sasaran sesuai kesepakatan bersama tadi terletak pada pimpinan. Dalam rangka itu tentu saja dipikiran dan hati kecil kita masing-masing telah menjagokan bahwa si A, B atau si C lah yang dianggap mampu dan harus menjadi pemimpin Sumba Tengah.

Tulisan ini tidak dimaksudkan kepada siapa, tapi lebih kepada bagaimana? Karena saya seorang rohaniawan, maka buah tangan ini lebih banyak berpijak dari sisi moralitas atau etika. Dengan titik pijak ini, maka kehadiran Sumba Tengah harus dilihat sebagai karya penyelamatan Allah bagi masyarakat Sumba Tengah. Mengapa?

Pertama tidak ada peristiwa yang kebetulan terjadi di bawah kolong langit ini tanpa sepengetahuan dan campur tangan Yang Kuasa. Kalau kita yang berjuang selama ini adalah orang yang beriman kepada Tuhan dan menyadari sebagai ciptaanNya, maka secara iman peristiwa ini tidak bisa tidak diklaim sebagai cara Allah untuk menyelamatkan masyarakat Sumba Tengah dari berbagai ketertindasan(seperti kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dll) untuk mengalami damai sejahtera.

Kedua, siapakah yang pernah membayangkan kekuasaan pemerintahan Orde Baru yang sangat sentralistik dan otoriter itu akan hancur, dan akibatnya daerah mempunyai peluang membangun dirinya melalui UU otonomi daerah 22 tahun 1999 yang kemudian di perbaharui dengan UU 32 tahun 2004.

Ketiga, seperti yang saya sudah katakan dalam tulisan yang pertama: kalau mau jujur dari berbagai persayaratan terutama pada sektor ekonomi, Sumba Tengah belum bisa dimekarkan. Contohnya perbankan saja sebagai jalur askes ekonomi yang paling sentral belum ada, tapi toh kita berhasil mekar. Tidakkah ada kekuatan tersembunyi yang mana itu adalah kekuatan Allah yang menyertai perjuangan politis kita selama itu?

Karena Sumba Tengah adalah karya penyelamatan Allah, maka proses Pilkadal dan pembangunan Sumba Tengah ke depanpun harus dijalani dalam terang ini. Sebagai warga Sumba Tengah mari kita masing-masing bertanggung jawab untuk menciptakan suasana Pilkadal yang damai, bebas dari tindakan anarki dan kekerasan. Marilah kita menyimak baik-baik isi dan tujuan visi misi para calon, apakah benar-benar mengarah kepada pembebasan masarakat dari berbagai tekanan hidup terutama kemiskinan dan Sumber Daya Manusia yang belum memadai, sebagai masalah serius di Sumba Tengah? Selain itu komitmen moral dan pengabdian para calon dalam mewujudkan visi misinya untuk mengeluarkan masyarakat Sumba Tengah dari masalah serius di atas, harus juga menjadi concern atau perhatian kita. Sebab visi misi yang baik saja belumlah cukup, jika tidak diikuti oleh komitmen moral dan pengabdian yang kuat. Dengan melakukan ini, maka kita akan menjadi pemilih yang bertanggung jawab atau setidak-tidaknya sedikit menghindarkan kita dari kemungkinan salah pilih. Selain itu, kita juga tidak gampang dipengaruhi oleh tawaran-tawaran murahan.

Sebagai calon pemimpin Sumba Tengah ke depan, marilah kita juga menawarkan visi misi yang ideal tapi realistis dengan persoalan-persoalan riil yang ada pada masyarakat Sumba Tengah. Sehingga ke depan masyarakat Sumba Tengah benar-benar terbebaskan dari belenggu-belenggu kehidupan, terutama dari kemiskinan dan kebodohan. Visi misi yang ideal dan realistis itu tentu harus diikuti pula oleh komitmen moral dan pengabdian diri yang tinggi kepada Allah melalui masyarakat Sumba Tengah. Karena kita telah lebih dahulu diselamatkan atau dimerdekakan oleh Allah dari masalah-masalah seperti di atas, maka marilah kita tularkan penyelamatan Allah itu kepada seluruh masyarakat Sumba Tengah, termasuk mereka yang tidak mendukung dan memilih kita. Dengan berbuat demikian, kita akan menjadi pemimpin besar dan berbudi luhur serta patut diteladani dan disegani.

Kalau demikian berarti kita dihindarkan dari kebingungan, ketegangan bahkan ketakutan akan siapa yang menjadi atau dikehendaki Tuhan untuk memimpin Sumba Tengah ke depan. Karena Sumba Tengah adalah karya penyelamatan Allah bagi masyarakat Sumba Tengah, maka gerejapun turut memikul tanggung jawab dalam menciptakan suasana Pilkadal yang damai dan pembangunan Sumba Tengah yang berkualitas ke depan. Gereja-gereja di Sumba Tengah tidak boleh menjadi penonton yang pasif dan masa bodoh dengan persoalan sosial politik. Sebab kalau visi misi gereja adalah menghadirkan tanda-tanda penyelamatan Allah di dunia ini, maka masalah sosial politik dan semua hal yang terkait dengan manusia tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab kalau tidak gereja hanya menghadirkan kedamaian dalam ibadah-ibadah, tapi setelah itu masyarakat berada dalam kekacauan dan ketidakdamaian. Penyelamatan Allah adalah penyelamatan yang merambah pada seluruh tatanan kehidupan manusia tanpa terkecuali. Mengatakan bahwa penyelamatan Allah hanya urusan pribadi yang bersifat rohani, berarti kita telah menyempitkan makna penyelamatanNya, dan karena itu jangan mengeluh bila dunia ini sarat dengan persoalan yang menyakitkan dan mengerikan. Bukankah kondisi di luar gereja turut mempengaruhi keadaan dalam gereja. Misalnya kalau masyarakatnya damai dan ekonominya maju, gereja juga turut merasakan dampaknya? Sebaliknya bila dunia berantakkan oleh karena pertarungan politik, bukankah gereja juga turut meneguk pahitnya?

Dalam hal ini tidak dimaksudkan bahwa gereja menjadi subordinasi atau menjadi alat boncengan dari pemerintah. Tidak! Gereja dan pemerintah merupakan dua organisasi yang sama-sama mempunyai perhatian terhadap kesejahteraan manusia. Hanya tawaran kesejahteraan dari pemerintah terbatas di dunia ini, sedangkan gereja melangkah jauh sampai ke akhirat. Karena tujuan keduanya sama walau tidak persis, maka harus ada kerja sama. Tapi bila pemerintah atau sebaliknya gereja melakukan penyimpangan dari tujuan mulia itu, maka gereja mesti menegur dan mengingatkan pemerintah, demikian pula sebaliknya. Berteman tidak berarti menghapuskan perbedaan atau meniadakan eksistensi masing-masing. Melainkan perbedaan dan eksistensi masing-masing itu mesti dipertahankan demi ceck and balance atau saling mengisi dan melengkapi. Bagaimanakah bentuk keterlibatan gereja dalam perpolitikan di Sumba Tengah? Kalau setiap hari minggu, selain mendoakan proses Pilkadal dan pembangunan Sumba Tengah kelak, tapi juga gereja terus menghimbau warga jemaat melalui khotbah dan arahan-arahan agar menjalani Pilkadal dengan damai dan menjadi warga Sumba Tengah yang bertanggung jawab dalam pembangunannya pada masa datang, maka sesungguhnya gereja sudah turut berpartisipasi dalam dinamika perpolitikan di Sumba Tengah. Memilih sikap netral ditengah perbedaan pilihan politik masyarakat, tetapi bersuara kritis ketika penyimpangan adalah juga bentuk keterlibatan positif gereja dalam politik.

Demikian torehan tangan ini dibuat untuk turut memperkaya khazanah atau kamus berpolitik kita dalam menyongsong Pilkadal pembangunan Sumba Tengah pada masa datang. Siapakah pemimpin Sumba Tengah ke depan? Jawabannya ada dihati setiap masyarakat Sumba Tengah dan para kandidat, dan terutama Tuhan sendiri. Pikiran dan hati kita bisa salah menduga, tapi hati dan pikiran Tuhan tidak akan pernah salah. Tangan kita bisa salah mencoblos, tapi tapi tangan Tuhan selalu pasti kearah mana coblosannya. Selamat mempersiapkan Pilkadal dan pembangunan Sumba Tengah ke depan, semoga damai nan jaya.

“Pendidikan + IT”, Seberapa Penting IT di NTT

ferdi.gifFerdinand U.R. Anaboeni – Kecenderungan penggunaan akses pencarian Informasi yang berbasis Teknologi Informasi ( TI ) dan Internet (International Network) sudah sangat sering kita dengar saat ini. Surat kabar dan majalah dipenuhi dengan cerita sukes dan gagal dari individu atau perusahaan yang merangkul IT dan Internet. Disisni saya akan sedikit mengulas implikasi IT terhadap bidang Pendidikan, khususnya pendidikan di daerah NTT.

Nusa Tenggara Timur, yang pada zaman kekuasaan Belanda merupakan bagian dari Sunda kecil, merupakan sebuah propinsi kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Kemiskinan serta keterbelakangan begitu terasa di segala aspek kehidupan masyarakatnya. Pendidikan yang seharusnya terjamah dan menjamah masyarakat disana, malah terasa semakin menjauh dan jauh dari harapan para pembuat UUD 45, khususnya yang tersirat pada pasal 31.

Teknologi informasi sebagai sebuah teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan dan mamanipulasi data, dalam prakteknya sebebenarnya dapat digunakan secara tepat guna dalam mendukung perkembangan pendidikan di NTT yang notabenenya masih terbelakang. Teknologi yang dimaksud, menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi ini digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Dalam hal ini Teknologi Internet, international Network sebagai sarana IT yang paling mudah dipakai untuk menunjang pendidikan di NTT.

Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan sebagai salah satu akses dan sarana penunjang pendidikan, merupakan sumber informasi yang mahal harganya.

Ada berapa banyak perpustakan di NTT? Bagaimana kualitas buku-buku yang tersedia disana?

Adanya Internet memungkinkan seseorang di NTT untuk mengakses perpustakaan di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung bahkan Amerika Serikat dan negara-negara lain di seluruh dunia. Cukup dengan sekali ‘click’, beragam infomasi dapat kita akses dan peroleh.

Bayangkan apabila seorang mahasiswa di kepulauan NTT dapat berdiskusi masalah ilmu kedokteran dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa melalui sebuah situs web. Mahasiswa dimanapun di NTT dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. “Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi”.

Secara pribadi saya (penulis, Red) telah mengenal Nusa Tenggara Timur sejak usia 5 tahun. Pendidikan yang berjalan disana dirasa terlalu monoton. Akses informasi pendidikan begitu terbatas pada tatap muka di kelas. Kualitas guru dalam penyampaian ilmu dirasa sangat kurang. Setelah saya melanjutkan studi di Universitas Kristen Satya Wacana – Salatiga, saya begitu terpukau dengan perbedaan yang terjadi diantara mahasiswa asal daerah Indonesia Timur dan mahasiswa asal daerah Indonesia barat, terkhusus dari pulau Jawa. Pemahaman akan mata kuliah yang diterima dapat dengan cepat mereka serap.

Mengapa bisa seperti itu ? Apa yang begitu membedakan di antara kami, padahal ilmu yang kami terima sama saja bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi, maka saat ini sangat dimungkinkan untuk mengakses informasi dalam bentuk apapun melalui Internet, oleh karena itu pengenalan IT sejak usia dini dirasa sangat perlu untuk menambah database keilmuan yang dimiliki oleh para siswa serta guru dan pengajar, tentunya tidak hanya terbatas pada tatap muka dikelas saja. Kita harus belajar dari kemajuan daerah lain di Indonesia yang telah sukses dalam menerapkan IT disegala bidang kehidupan, pendidikan juga termaksud. Ketersediaan sarana IT di wilayah Indonesia bagian barat berkembang dengan sangat cepat Pemerintah dalam hal ini PEMDA NTT, sekolah serta masyarakat bisnis IT diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam perkembangan IT di NTT sebagai sarana penunjang perkembangan pendidikan yang berkualitas dan dapat bersaing di era Globalisasi ini.

Saat ini pula, dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa/siswa dengan dosen/guru/pengajar, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Salah satu manfaaat utama dari pembelajaran jarak jauh adalah dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh banyak orang. Coba bayangkan, jika pendidikan hanya dilakukan di kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut dalam 1 kelas? Jumlah pesertanya tentu hanya dapat diisi ± 50 orang saja. Pembelajaran jarak jauh (Distance Learning) dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja.

Kebekuan yang terlampau lama akan kebutuhan informasi dari masyarakat NTT sudah saatnya dicairkan, kegelapan yang selama ini menyelimuti dunia pendidikan di NTT sudah selayaknyalah diterangi dengan secercah cahaya. Memaksimalkan penggunaan Teknologi secara tepat guna dalam bidang pendidikan di NTT harus dimulai dari sekarang. Disini penulis hanya dapat menghimbau “mari bersama, semua elemen penopang pendidikan, bangkit dan bersatu demi masa depan generasi-generasi penerus daerah, anak cucu kita tercinta serta kejayaan pendidikan di NTT”.

Mengatasi Pengangguran Dengan Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Masyarakat Sumba Tengah

dimas.jpg
Dimas Priambodho Umbu Bolu Tagukoda – Masalah pengangguran merupakan kasus krusial yang menyebabkan lambannya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penyebab utama tingginya penganggura di indonesia antaralain : kurangnya lapangan kerja, rendahnya jenjang pendidikan yang dicapai masyarakat, ditunjang dengan minimnya ketrampilan yang dikuarai oleh sumber daya manusia dan masih banyak lagi faktor penunjang lainnya.

Sumba Tengah sebagai kabupaten baru diharapkan mampu mensiyasati gejolak pengangguran yang sedang merambah bumi nusantara ini. Bukan hanya pemerintah saja tetapi juga masyarakat Sumbah Tengah dituntut untuk segera berbehah diri. Pemimpin Sumba Tengah diharapkan nantinya dapat bekerja sama dengan masyarakat dalam mengatasi masalah tersebut diatas.

Setelah sukses mekar menjadi kabupaten baru dipulau sumba, Sumba Tengah memang menjanjikan berbagai hal. Salah satunya yaitu diprediksikan oleh masyarakat, bahwa kabupaten baru Sumba Tengah akan menyedot banyak putra putri daerah untuk bisa mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sehingga kamipun yang saat ini sedang menimba ilmu dipulau jawa, berlomba-lomba untuk dapat cepat lulus agar bisa mengikuti tes PNS. Namun perlu diingat, peluang seperti ini pastinya tidak berlangsung lama atau bahkan tidak sesuai dengan yang kita diharapkan.

Didalam masa pembangunan, obat mujarap untuk mengatasi masalah pengangguran yaitu dengan menumbuhkan jiwa Kewirausahaan melalui Wirausaha. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Kemudian Wirausaha adalah kemampuan seseorang untuk hidup sendiri atau berdikari di dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya yang bebas atau merdeka secara lahir dan bathin.

Melihat begitu kompleksnya pengertian dari Kewirausahaan dan Wirausaha, bukan berarti seorang calon wirausahawan harus bersusah payah untuk memikirkan usaha apa yang akan ia bangun. Sebab segala macam bentuk usaha,bila diterapkan dengan pola manajemen usaha (perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan) yang baik pasti akan menuai hasil yang memuaskan.

Sebagai suatu contoh, telah banyak kota-kota maju di indonesia yang masyarakatnya telah sukses menumbuhkan jiwa kewirausahaan dengan mengkomersialkan makanan khas daerah melalui usaha makanan. Sebut saja Yogyakarta dengan gudeg dan bakpia pathoknya, Semarang dengan lumpia dan bandeng prestonya, Makassar dengan coto makassar dan es palubutungnya, dan manado dengan rica-ricanya.

Bila para pelancong atau wisatawan yang inngin menikmati masakan-masakan tersebut, sudah tersedia rumah makan atau warung makan yang siap menjajakan masakan khas daerah setempat. Itu baru soal makanan, apalagi kalau soal mengkomersialkan hasil kerajinan, tidak perlu ditangnyakan lagi. Mereka memang jagonya.

Kota-kota tersebut diatas sangat populer ditanah air karena mampu mengkomersialkan makanan khas daerahnya. Mengapa bisa demikian? Jawabannya adalah karena masyarakat dikota-kota tersebut memiliki jiwa kewirausahaan. Didalam jiwa kewirausahaan terkandung makna berani mengambil resiko, pantang menyerah, dan kerja keras. Luarbiasa bukan? Lalu bagaimana dengan Sumba Tengah ? apakah sumba tengah tidak memiliki makanan khas ? atau kerajinan tangan misalnya?

Anakalang yang sudah hampir pasti menjadi ibu kota kabupaten hendaknya menyiapkan jawaban untuk pertanyaan diatas sejak dini. Secara pribadi saya sudah mengenal anakalang sejak usia 7 tahun. Saya sangat suka sekali dengan kue putu dan sayur ka’batta buatan nenek. Kue putu dan sayur ka’batta adalah masakan yang sudah tidak asing lagi di lidah dan telinga orang anakalang. Saya ataupun masyarakat Sumba Tengah lainnya mungkin dengan mudah dapat jika ingin menikmati masakan khas Anakalang tersebut. Tetapi bagaimana dengan nasip wisatawan domestik (dalam negeri) atau wisatawan asing yang ingin menikmati atau mencicipi masakan khas anakalang ? apakah di anakalang sudah tersedia rumah makan atau warung makan yang menyediakan ka’batta dan kue putu? Jawabannya tentu saja belum ada.

Sayur ka’batta dan kue putu mungkin hanya merupakan contoh kecil saja. Mungkin masih banyak lagi masakan khas Anakalang yang saya tidak ketahui. Sayur ka’batta dan kue putu merupakan peluang usaha yang potensial bila dikenbangkan dan juga merupakan modal besar yang di sepelekan. Tidak hanya makanan sebenarnya, tetapi Anakalang juga menyimpan cukup banyak jenis kerajinan tangan tradisional, seperti tikar, kaleku, tempat sipinang, kain tenun, dan bola nasi yang memiliki nilai ekomomi yang tinggi. Sumba tengah sudah memiliki ketrampilan dalam diri masyarakatnya. Tinggal bagimana masyarakat tersebut dilatih untuk dapat menerapkan pola manajemen usaha yang baik.

Takut gagal serta tidak berani mengambil resiko merupakan beberapa faktor penyebab usaha makanan kurang diminati dikalangan masyarakat sumba tengah. Sedangkan penyebab usaha makanan kurang diminati oleh masyarakat sumba tengah adalah gengsi. Apabila masyarakat sumba tengah ingin berkecimpung didunia usaha khususnya untuk usaha makanan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengubur dalam-dalam gengsi yang ada dalam diri masyarakat sumba tengah. Menjual makanan bukanlah suatu pekerjaan yang hina, namun suatu profesi yang lebih mulia daripada mencuri atau merampok.

Dalam dunia wirausaha, kerjakeras, keberanian mengambil resiko, dan kreatifitas, merupakan tiga hal utama yang wajib dilaksanakan. Melalui kewirausahaan masyarakat sumba tengah dapat belajar mandiri, inovatif, dan kreatif guna meningkatkan kesejahteraan.

Tantangan untuk bisa terus bertahan sebagai kabupaten, tidak hanya merupakan tanggung jawab penuh para pemimpin sumba tengah nantinya. Tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat sumba tengah. Masyarakat sumba tengah diharapkan tidak terlalu terlena dengan hiruk pikuk atmosfer politik yang makin memanas menjelang pilkada sumba tengah yang akan dilaksakan dalam waktu dekat. ,tetapi yang terpenting juga harus tahu bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan hidup.

Soal berpolitik tidak usah diragukan lagi, sudah pasti masyarakat Sumba Tengah jagonya. Tetapi bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Sumba Tengah masih perlu banyak belajar.

Pemerintah Sumba Tengah kedepan diharapkan dapat mengalokasikan dana untuk kegiatan-kegiatan perlatihan kewirausahaan kepada masyarakat. Pelatihan yang bertujuan untuk mengasah kertrampilan masyarakat dalam meningkatkan nilai jual suatu komoditi yang dimiliki daerah, sehingga mampu menciptakan masyarakat yang mandiri, kreatif, dan inovatif. Apabila pemerintah sumba tengah sudah mampu menciptakan para manusia sumba tengah yang mandiri, kreatif, dan inofatif, masalah pengangguran bukan lagi merupakan ancaman yang menghawatirkan.

Akan datang suatu perubahan untuk dapat hidup lebih baik merupakan dambaan seluruh masyarakat sumba tengah. Tapi sebenarnya perubahan adalah soal waktu yang terpenting adalah niat dari masyarakat sumba tengah untuk berubah.

KATAGA: Seni Tari yang Menarik

SALATIGA, (Talora) – Tarian kataga selalu mendapat perhatian khusus bagi siapapun yang menonton tarian ini. Baik di Sumba maupun di luar Sumba tarian ini selalu dinanti-nantikan oleh para penonton. Dengan irama gong yang begitu kas, sorak sorai, yel-yel khas orang sumba dan hentakan tameng yang begitu menggugah membuat para penonton terhenyak. Terlepas dari seni dan menariknya tarian Kataga, ada begitu banyak orang, baik orang sumba apalagi yang bukan orang sumba tidak tahu dari mana asal mula munculnya tarian ini. Walaupun ada yang tahu, tapi hanya sebatas pada tarian Kataga sebagai tarian perang. Berikut secara singkat uraian asal mulanya tarian Kataga.

Secara harafiah pengertian KATAGA adalah berasal dari kata TAGA yang mendapat awalan KA yang artinya “Mari kita potong atau pancung”.

Dalam arti yang lain KATAGA adalah memperhitungkan kekuatan lawan dan di mana letak-letak kelemahan lawan. Makanya gerakan-gerakan kaki dalam tarian ini sepertinya maju mundur pada awalnya.

Konon dahulu kala di Anakalang, terjadi peristiwa perang antar kampung ataupun perang antara marga yang satu dengan marga yang lainnya, dan perang tersebut disebut dengan perang tanding. Dalam perang tanding biasanya ada pihak yang menang ataupun kalah.

Pihak yang menang biasanya ada sorak sorai, ada gegap gempita atas kemenangan tersebut, apalagai ditunjang oleh teriakan khas yang menjadi sumber motivasi dari kalangan perempuan dalam menyambut kemenangan. Dalam perang tanding pihak yang memperoleh kemenangan harus membawa pulang kepala dari musuh. Kepala musuh inilah yang dielu-elukan selama beberapa hari dengan digantung di ‘TUGU’ (adung*) pelataran/talora, dan pada suatu saat bila ada pihak ketiga yang melakukan perdamaian pada kedua pihak, maka tengkorak musuh dikembalikan sebagai tanda perdamaian. Setelah acara perang tanding selesai, biasanya para serdadu yang terlibat dalam perang tanding memperagakan cara mereka berperang tadi. Bagaimana mereka memotong, menangkis dan menghindar. Dari sinilah kemudian ketika perang tanding sudah bukan menjadi kebiasaan lagi maka hal itu dialihkan menjadi gerakan-gerakan tari yang sekarang disebut sebagai tarian KATAGA. Kataga yang berasal dari kata katagahu yaitu kegiatan memotong kepala korban peperangan untuk mengeluarkan isi otaknya. Acara pemotongan ini dilakukan dengan penuh perhitungan dan sangat hati-hati agar tidak merusak tengkorak. Nama tungku untuk memasak kepala orang di adung bani itu adalah Kabellaku da binnu, kaitu da ma jauli, yang berarti tempat yang tidak pernah penuh dan bermakna selalu minta untuk diisi.

*Adung : pada setiap kabisu biasanya terdapat uma adung.

Pertama, Adung Bani adalah untuk perayaan sebelum pelaksana perang tanding itu, apakah leluhur setuju atau tidak melalui puwi mowalu atau kabetahu dengan menggunakan daun kelapa muda yang letaknya di pinggir Talora atau Kabolu Talora.

Kedua, Adung Pari Koni Pari Dina, sebagai lambang kemakmuran dan didirikan di tengah Talora atau Pelatang. (Yarif Umbu Bora)

kataga.jpg