Gaya Hidup Remaja di Kupang dan AIDS

Kupang atau dalam ejaan lama sering disebut Koepang. Bagi rakyat Nusa Tenggara Timur tentu tidak asing bila mendengar kata Kupang. Kupang adalah sebuah kota pantai dipinggiran barat pulau Timor. Kupang juga merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Provinsi yang secara geografis merupakan wilayah terselatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak hal yang menjadi memori tersendiri bagi rakyat NTT bila mendengar kata Kupang. Kupang merupakan surga bagi banyak masyarakat NTT untuk dijadikan tempat menaikkan derajat hidup mereka. Banyak yang sukses namun banyak juga yang pada akhirnya harus pergi meninggalkan kota ini kembali ke kampung halamannya masing-masing. Bila memilih untuk tetap tinggal dan menetap, mereka hanya dapat berharap kepada sanak saudara mereka yang telah lebih dulu menetap disini, dalam arti kata menumpang di sanak famili mereka.

Selain surga bagi para pencari kerja, bila mendengar kata kupang tentu akan diingatkan pada kata Flobamora yakni singkatan dari Flores, Sumba, Timor dan Alor. Beragam kebudayaan dari seluruh kepulauan di wilayah NTT ada di kota Kupang. Kemajemukan terlihat takkala kita berada di kota ini dan berjalan serta mendengar percakapan mereka di jalan-jalan kota tersebut. Selain masyarakat yang berasal dari wilayah NTT, para pendatang dari tanah Jawa, Sumatera, Bali, Ambon, Sulawesi, kepulauan NTB dan masih banyak lagi lainnya juga ada dan berbaur dengan baik di kota ini, tujuannya satu yakni menaikkan derajat kehidupannya.

Kupang juga merupakan Kota dengan beragam suguhan hiburan. Hiburan yang tidak bisa ditemui di wilayah-wilayah kepulauan NTT. Hiburan yang paling diminati oleh masyarakat Kupang pada umumnya dan para muda-mudi khususnya adalah tongkrongan di malam hari. Hal ini sudah menjadi sebuah gaya hidup yang cukup berakar dan sangat digandrungi oleh mereka. Hampir di tiap sudut kota kita bisa melihat sekelompok, beberapa bahkan individu yang sedang duduk dengan asyiknya menikmati indahnya malam.

Berbicara gaya hidup masyarakat Kupang, ada istilah yang sering diperbincangakan dikalangan masyarakatnya yakni “Hari ini muncul di TV, besok pasti sudah ada di Kupang”. Ungkapan ini dikemukakan seorang anak muda bernama Yus Ressie saat ditemui di kediaman rumahnya di jalan kuanino Kupang bulan Februari kemarin. Yus adalah sapaan dia. Yus sendiri saat ini sedang berkuliah di Fakultas Hukum UNDANA Kupang dan tengah mengambil kelas ekstension. Yus berpendapat ungkapan diatas dimaksudkan lifestyle para muda-mudi disini. Bagaimana tidak, segala macam pernak-pernik, pakaian, kendaraan, HP dan beragam peralatan elektronik lainnya yang kita lihat di televisi bisa kita jumpai disini dalam waktu yang relatif singkat setelah penayangannya di televisi menurutnya.

Dunia Malam Kupang

Eloknya Kupang memang indah. Dibalik hiruk pikuknya para pekerja, pelajar, raungan knalpot serta asap kendaraan bermotor beragam objek wisata banyak terdapat disini. Objek-objek wisata inilah yang menjadi hiburan dikala kesibukan pekerjaan dilakoni masyarakatnya.

Saat cahaya mentari terbenam dan gelapnya malam menyelimuti seluruh kota, cahaya mentari berganti cahaya lampu penerangan jalan, lampu pertokoan serta lampu kendaraan bermotor yang tak terhitung banyaknya. Kota ini telah berubah menjadi kota cahaya. Di balik indahnya kerlap-kerlip lampu, kota ini menyimpan ragam cerita. Cerita yang menawarkan hiburan malam nan erotis penuh gelora dan hasrat.

Hiburan malam yang terkenal di Kupang adalah hiburan kupu-kupu malam (pelacur/hostes). Bagaimana tidak, beragam tempat serta lokasi para kupu-kupu malam banyak terdapat disini, sebut saja BK, KD, KST atau PA. Keempatnya adalah tempat yang menjadi sumber hiburan bagi para pria yang haus dan butuh kasih sayang. Tidak sedikit yang mengkategorikannya sebagai pria hidung belang. Dengan tarif berkisar antara 30 ribu sampai 250 ribu para lelaki hidung belang sudah dapat menikmati dan merasakan layanan kupu-kupu malam. Hal ini diungkapkan Leo (nama samaran) saat dimintai informasi lewat sms. Leo seorang pengangguran asal kefamenanu yang telah hidup dan menetap di kota ini selama kurang lebih 20 tahun. Dalam pergaulannya Leo telah banyak mengenal dan bergaul dengan kehidupan malam kota ini, khususnya dunia prostistusi (pelacuran).

Dengan bantuan seorang teman berinisial RL, pengamatan dilakukan ke tempat kupu-kupu malam berada. Pengamatan diawali ke BK, sebuah hotel kelas melati berlantai 2. Didepan masing-masing kamar terlihat kupu-kupu malam dengan dandanan serta pakaian minim nan seksi. Dengan bahasa tubuhnya mereka menarik minat para lelaki hidung belang agar mau untuk mampir. Setelah pengamatan selama kurang lebih 30 menit, pelanggan yang datang dikategorikan kaum muda dan madya berumur 25 sampai 40 tahunan.

Pengamatan pun dilanjutkan ke KD, lokasi terluas dari tempat berkumpulnya kupu-kupu malam. Layaknya hotel berbintang, jumlah kamar yang tersedia lebih dari 50 dengan kupu-kupu malam di setiap kamarnya. Tarif disini terbilang murah. Dengan uang sebesar 30 ribu rupiah para lelaki hidung belang sudah bisa menggunakan jasa kupu-kupu malam. Setelah berjalan keliling ke seluruh area lokasi, beberapa remaja baya telihat berlalu lalang disini. Ada yang masuk tuk chek in namun lebih banyak yang sekedar berjalan keliling melihat suasana sambil sesekali bersenda gurau dengan sesama teman-temannya.

Dunia malam Kupang tidak terhenti sekedar “jajan” dan bersenang-senang bersama para kupu-kupu malam. Di kalangan muda-mudi, hangout bersama pasangan dan teman mereka lakoni ke tempat-tempat yang menyajikan hiburan live music. Sebut saja DH singkatan dari dancing house. DH adalah sebuah diskotik yang terletak di salah satu swalayan terkenal di kota ini. Dengan tarif masuk 10 ribu rupiah di hari kerja dan 20 ribu rupiah khusus sabtu dan minggu malam, para kawula muda dan penikmat dugem dapat menikmati indahnya malam bersama teman ataupun pasangannya.

Seks bebas di kalangan remaja

Seks bebas di beberapa kalangan masyarakat Kupang juga telah menjadi bagian dari gaya hidupnya masing-masing, terutama dikalangan remaja dan pemuda. Hal ini diungkapkan Daro (nama samara) seorang pegawai muda di Gedung Keuangan Negara Provinsi NTT saat dimintai informasi lewat e-mail. Selain sebagai pegawai kantoran, Daro yang masih lajang mengaku sebagai salah satu bagian dari kaum berpemahaman free sex not bad. Daro juga mengaku sering melakukan hubungan intim terkhusus dengan teman kencan dari kalangan remaja. Dia memberi informasi bahwa di kalangan remaja kota Kupang free sex adalah salah satu bentuk pencarian jati diri. Hal ini dikarenakan salah dalam bergaul. Saat ditanya apakah kaum mudi menginginkan uang layaknya seorang pelacur dari teman kencannya? Daro menjawab “kalau mau di bilang untuk mencari uang tidak juga karena latar belakang kehidupan mereka adalah keluarga yang berada dan tidak berkekurangan.”

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Daro. Sewaktu di Kupang sekitar pertengahan Februari 2009, penulis pernah berkunjung ke Dancing House bersama 2 orang teman. Disana dengan dibantu seorang teman kami bisa mengobrol dengan beberapa remaja wanita yang sedang asyik mengobrol dan bersenda gurau satu dengan lainnya.

Mereka yang mengaku dirinya anak gaul kota Kupang bertanya, “kalau di Jawa kakak sering ke tempat-tempat seperti ini?”

Aku pun menjawab “percaya atau sonde (tidak) ini pertama kalinya bta (saya) ke tempat seperti ini.”

Dengan senyuman dan tawa mengejek mereka berkata “Masak? Jangan-jangan kakak masih virgin (perjaka)?”

Wow, sebuah pertanyaan yang cukup mengagetkan yang keluar dari mulut seorang perempuan berumur 16 tahun batinku. Aku pun hanya tersenyum dan diam seribu bahasa.

Karena melihatku diam dan tak menjawab pertanyaan tersebut mereka semakin tertawa. Salah satu dari mereka berkata “Masak sih seorang seperti kakak masih virgin? Kalah donk sama ketong (kami) yang dari Kupang. Sonde jamannya lagi virgin-virginan.”

Obrolan ini terus berlanjut sampai jam 2 malam, waktu dimana Dancing House harus tutup. Dalam batinku aku telah mendapat sebuah cerita. Cerita yang akan kutulis dan kubagi kepada banyak orang tentang kondisi dan gaya hidup para remaja dan pemuda di kota ini, gaya hidup yang bertentangan dengan faham ketimuran.

HIV/ AIDS.

Pergaulan dan gaya hidup masyarakat di Kupang memang semakin berbeda dari waktu ke waktu dan mendekati sama dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bisa jadi hal seperti ini tidak hanya terjadi di Kupang namun juga di wilayah lain di Provinsi NTT. Kondisi seperti ini berakibat pada jumlah peningkatan penderita HIV dan AIDS di NTT. Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT dari tahun 1997 sampai dengan 31 Mei 2008 memperlihatkan bahwa jumlah penderita HIV dan AIDS selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari grafik yang tertera di gambar 1. Untuk kasus HIV, peningkatan tertinggi terjadi pada kurun waktu 2003-2004 dengan jumlah peningkatan mencapai 23 kasus. Untuk AIDS, kurun waktu tahun 2006-2007 adalah yang terburuk dengan peningkatan jumlah kasus mencapai 41.

Sedangkan presentase kasus HIV dan AIDS di Provinsi NTT berdasarkan jenis pekerjaannya (gambar 2) memperlihatkan bahwa pekerja seks komersial (PSK) menempati posisi teratas sebesar 27%, diikuti tenaga kerja Indonesia (TKI) sebesar 13%, lalu pegawai negeri sipil (PNS) 9% dan sebagainya. Untuk Persentase kasus HIV dan AIDS di Provinsi NTT berdasarkan golongan umur (gambar 3), umur 35-39 thn adalah pemegang urutan tertinggi 37%, diikuti umur 30-34 thn sebesar 23% dan sebagainya.

Dari jumlah penderita HIV dan AIDS di Provinsi NTT (gambar 4), kota Kupang menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah total sebanyak 119 kasus. Terdiri dari HIV sebanyak 79 kasus dan AIDS 40 kasus. Dari total 119 kasus, jumlah yang telah mati sebanyak 28 orang.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Oleh : Ferdinand U.R Anaboeni

4 Komentar

  1. Memang sangat rawan karena kecenderungan untuk tidak peduli pada bahaya tersebut

    • Kalau boleh tahu ketidakpedulian itu disebabkan oleh faktor apa ?
      Karena dari situlah bisa ditemukan solusi atas ketidakpedulian itu sendiri.

  2. Kondisi ini penanganannya melibatkan semua pihak. Keluarga,pemerintah,swasta pelaku ekonomh,lembaga agama dan DPR. Harus ada komitmen dan tindakan bersama. Sebab kenikmatan dunia sifatnya sementara yg berdampak kebinasaan kekal. Tubuh adalah rumah Allah dan milik Allah.

    • Setuju sekali. Dengan adanya koordinasi penanganan yang lebih baik, niscaya NTT kedepan akan terbebas dari virus HIV/AIDS.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.